Kredit Foto: Dwi Aditya Putra
Usaha yang ia rintis perlahan kini tumbuh. Omzet sebulan bisa tembus hingga Rp30 juta. Berbekal keterampilan yang sempat ia pelajari saat dikirim ke Swiss untuk pelatihan perkayuan, ia mulai menerima pesanan yang lebih besar, termasuk parket lantai kayu dan komponen furnitur.
"Kalau sekarang ini paling ya 30 juta per bulan (omzet)," imbuh dia.
Titik balik datang ketika pesanan mulai berdatangan dari relasi lama, termasuk teman masa sekolah yang masih mengingat keahliannya. Dari situ, usaha kecil itu berkembang menjadi bengkel produksi kayu yang melayani berbagai proyek besar.
Kini, usahanya telah berjalan lebih dari empat dekade. Meski naik turun, termasuk saat krisis ekonomi 1998 dan pandemi Covid-19, ia memilih bertahan tanpa mengurangi jumlah pekerja secara drastis.
“Yang penting tidak memberhentikan karyawan,” katanya tegas.
Di bengkel sederhana itu, hanya sekitar delapan orang yang kini bekerja bersamanya. Ia sendiri lebih banyak berperan mengawasi dan memastikan kualitas produksi.
Baca Juga: Premi Askrindo Tumbuh 10% di Maret 2026, Lini Asuransi Umum Jadi Penopang Utama
Dari segi akses pembiayaan sendiri, Seno mengaku tenang karena mengetahui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diambil telah dijamin PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo. Branch Manager Askrindo Semarang Gami Aji L menuturkan, pihaknya berperan menjamin KUR yang diambil oleh Slamet.
Secara total, penjaminan KUR Askrindo di Kantor Cabang Semarang mencapai Rp1,3 triliun hingga April 2026. Jumlah debiturnya mencapai 24.000 orang. Kebanyakan debitur berasal dari sektor perdagangan, dengan jumlah mencapai 10.571 debitur.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: