Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, menyebut pembahasan terkait aspek keamanan (safety) dari rencana implementasi produk alternatif LPG, yakni CNG 3 Kg, masih terus dilakukan.
Laode mengatakan pembahasan tersebut turut melibatkan berbagai kementerian dan lembaga sebelum CNG 3 Kg dirilis dalam tiga bulan ke depan.
“Seperti yang Pak Menteri umumkan, kita sekarang sedang menganalisis berbagai aspek. Salah satu aspek penting adalah aspek keselamatan. Nah, aspek keselamatannya ini bukan hanya dari Kementerian ESDM, tapi juga ada dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, sama BSN ya yang menerbitkan standarnya. Ini semua kita sedang konsolidasikan semua,” ujar Laode di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Ia menegaskan, status CNG bukan untuk langsung menggantikan LPG secara masif. Menurutnya, produk tersebut akan menjadi alternatif yang diterapkan secara bertahap, mengingat konsumsi LPG domestik sangat besar.
“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuman kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. Yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” katanya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi LPG nasional saat ini mencapai 8,6 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen masih dipenuhi melalui impor.
Selain bertujuan mengurangi ketergantungan impor, penggunaan CNG juga diklaim lebih efisien dari sisi anggaran negara. Laode menjelaskan biaya CNG lebih murah sekitar 30 persen dibandingkan LPG sehingga diharapkan dapat menekan beban subsidi energi.
Baca Juga: Tak Sekadar Pengganti, PGN Gagas Sebut CNG Perkaya Pilihan Energi Nasional
Baca Juga: Percepat Implementasi CNG, Bahlil: Devisa Kita Setiap Tahun Beli LPG Sampai Rp150 Triliun
“Nah 30% penghematan itu adalah dengan konten yang sama, dengan harga yang sama dengan LPG 3 kg, kita bisa menghemat 30% subsidinya lebih rendah daripada subsidi LPG," ujar Laode dalam acara talkshow dan konferensi pers bertajuk CNG & LNG untuk Rakyat di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Meski implementasi dipastikan dimulai tahun ini, pemerintah masih mengkaji penetapan harga final yang akan diterima masyarakat. Namun, pemerintah mengupayakan agar harga CNG nantinya setara dengan LPG 3 Kg.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut Compressed Natural Gas (CNG) 3 Kg bakal disematkan subsidi. Kebijakan tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi masyarakat agar memperoleh harga yang lebih terjangkau.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menghadirkan substitusi LPG, mengingat mayoritas pasokan LPG nasional saat ini masih bergantung pada impor.
“Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi hal yang harus dilakukan untuk rakyat,” ujar Bahlil usai melantik 19 Pejabat Tinggi Pratama di Kementerian ESDM, Rabu (6/5/2026).
Dengan adanya dukungan subsidi tersebut, Bahlil menyebut besar kemungkinan harga jual CNG 3 Kg akan kompetitif dan setara dengan harga LPG 3 Kg di pasaran. Saat ini, harga LPG 3 Kg di tingkat pengecer berkisar Rp22.000 hingga Rp25.000 per tabung.
“Doakan seperti itu ya. Minimal sama (dengan harga Elpiji 3 kg). Minimal sama,” tegas Bahlil.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: