Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

FTSE Tendang Saham HSC, BREN hingga DSSA Terancam

FTSE Tendang Saham HSC, BREN hingga DSSA Terancam Kredit Foto: FTSE
Warta Ekonomi, Jakarta -

FTSE Russell resmi mengambil langkah tegas terhadap saham-saham Indonesia dengan status High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan tinggi. Dalam tinjauan indeks Juni 2026, sejumlah saham yang masuk daftar HSC berpotensi dikeluarkan dari indeks global FTSE, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) hingga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Kebijakan tersebut diumumkan FTSE Russell dalam pembaruan perlakuan indeks Indonesia yang dirilis Rabu (13/5/2026). Lembaga penyusun indeks global itu menyatakan saham yang mendapatkan peringatan konsentrasi kepemilikan tinggi dari regulator akan dihapus pada peninjauan indeks berikutnya.  

FTSE menjelaskan, keputusan itu diambil setelah memantau perkembangan pasar modal Indonesia dan menerima masukan dari pelaku pasar global terkait risiko likuiditas saham HSC.

“Likuiditas saham yang terdampak diperkirakan akan memburuk secara material menjelang tinjauan indeks Juni 2026,” tulis FTSE Russell, dikutip Jumat (15/5/2026). 

Kondisi tersebut dinilai dapat menyulitkan investor berbasis indeks atau index tracking fund untuk melakukan penyesuaian portofolio tanpa menekan harga saham secara signifikan. Karena itu, FTSE memutuskan saham yang terkena status HSC akan dihapus dari indeks dengan harga nol efektif pada pembukaan perdagangan 22 Juni 2026.  

Baca Juga: Dicoret dari MSCI, 19 Saham Ini Rontok Berjamaah

Baca Juga: OJK Tegaskan Status Pasar Modal RI Tetap Stabil di Emerging Market Usai Evaluasi MSCI

Di saat bersamaan, FTSE Russell menilai regulator pasar modal Indonesia mulai melakukan sejumlah perbaikan transparansi pasar. Beberapa langkah yang dicatat antara lain keterbukaan data pemegang saham di atas 1%, publikasi daftar saham HSC, hingga penyempurnaan pelaporan klasifikasi investor.  

Meski demikian, FTSE masih menunda proses pemeringkatan penuh indeks Indonesia, termasuk penambahan saham baru dan IPO, setidaknya hingga tinjauan September 2026. Penundaan dilakukan untuk memberi waktu observasi lebih panjang terhadap efektivitas kebijakan regulator dan kondisi likuiditas pasar.  

Dalam tinjauan Juni 2026, FTSE tetap menjalankan sejumlah penyesuaian rutin seperti pembaruan klasifikasi industri, perubahan free float, serta penyesuaian kuartalan lainnya terhadap saham Indonesia.  

Adapun, Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya mengungkapkan terdapat sejumlah saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan sangat tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Kondisi ini menunjukkan sebagian besar saham beredar dikuasai kelompok pemegang saham tertentu sehingga ruang saham yang beredar di publik menjadi terbatas.

Dari daftar tersebut, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menjadi emiten dengan konsentrasi kepemilikan tertinggi mencapai 99,77% dari total saham beredar. Posisi berikutnya ditempati PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) dengan tingkat konsentrasi mencapai 99,85%.

PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) juga tercatat memiliki kepemilikan terkonsentrasi sebesar 98,35%, disusul PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) sebesar 97,75% dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 97,31%.

Sementara itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tercatat memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan sebesar 95,76%. Adapun PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) mencapai 95,94%, PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) sebesar 95,82%, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) sebesar 95,47%, dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) sebesar 95,35%.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri