Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Saham Ini Berpotensi Turun Bobot Meski FTSE Pertahankan Status Indonesia

Saham Ini Berpotensi Turun Bobot Meski FTSE Pertahankan Status Indonesia Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sejumlah saham emiten di pasar modal Indonesia berpotensi mengalami penyesuaian bobot meski FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Penyesuaian ini diperkirakan terjadi menjelang peninjauan indeks berikutnya pada Juni 2026.

FTSE Russell diketahui belum melakukan perubahan bobot (weighting) terhadap saham-saham Indonesia saat ini karena masih menunggu pembaruan data terbaru.

Co-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, mengatakan FTSE Russell tengah mencermati data terbaru terkait tingkat konsentrasi kepemilikan saham (high share concentration) yang dirilis pada awal April 2026.

“FTSE tampaknya akan menggunakan data tersebut untuk rebalancing portofolio. Ada kemungkinan saham yang masuk kategori high share concentration akan dikeluarkan atau mengalami penurunan bobot,” ujar Hans.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat sembilan saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi. Salah satunya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), di mana pemegang saham tertentu secara agregat menguasai 97,31 persen dari total saham beredar.

Selain itu, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) memiliki konsentrasi kepemilikan sebesar 95,47 persen. PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) tercatat sebesar 97,75 persen, PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) sebesar 98,35 persen, dan PT Ifishdeco Tbk (IFSH) mencapai 99,77 persen.

Selanjutnya, PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) memiliki konsentrasi kepemilikan sebesar 95,94 persen, PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) sebesar 99,85 persen, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) sebesar 95,35 persen, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 95,76 persen.

Di sisi lain, peluang masuknya saham baru ke dalam indeks FTSE Russell juga terbuka. Hans menyebut PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) berpotensi memperoleh peningkatan eksposur dalam indeks.

Baca Juga: Indonesia Lolos dari Downgrade FTSE, Pasar Modal RI Dapat Angin Segar

Baca Juga: IHSG Sesi I Terbang 3,39% ke 7.207 Susul Putusan FTSE dan Genjatan Senjata AS-Iran

Baca Juga: FTSE Russell Pertahankan Status Indonesia Sebagai Secondary Emerging Market

“Ada beberapa saham yang berpeluang masuk seperti BUMI dan ADMR,” jelasnya.

Meski demikian, ia berharap bobot Indonesia dalam indeks FTSE Russell tetap terjaga agar aliran dana investasi global berbasis indeks (passive funds) tidak mengalami penurunan.

“Kita berharap bobot Indonesia tidak turun sehingga tetap menarik bagi investor global,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: