Kredit Foto: Gemini/Wahyu Pratama
Kekhawatiran soal penyebaran Ebola kembali mencuat setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan wabah di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan internasional. Namun sampai saat ini belum ada laporan resmi kasus Ebola ditemukan di Indonesia.
Status darurat internasional diumumkan WHO karena wabah kali ini dinilai memiliki risiko penyebaran regional yang tinggi. Meski begitu, WHO menegaskan situasi tersebut belum masuk kategori pandemi global seperti Covid-19.
Wabah terbaru ini berasal dari Provinsi Ituri di Republik Demokratik Kongo atau RD Kongo. Penyebaran kemudian meluas hingga Uganda setelah ditemukan kasus impor dari wilayah konflik tersebut.
WHO mencatat ada ratusan kasus suspek dengan puluhan kematian yang sudah dilaporkan sejauh ini. Angka sebenarnya bahkan dikhawatirkan lebih tinggi karena pelacakan kasus masih terkendala konflik dan mobilitas warga yang tinggi.
Yang membuat wabah kali ini lebih mengkhawatirkan adalah jenis virusnya. Ebola yang menyebar saat ini berasal dari strain Bundibugyo yang belum memiliki vaksin maupun obat khusus yang disetujui secara global.
Virus Ebola sendiri menyebar lewat kontak langsung dengan cairan tubuh penderita seperti darah, muntahan, atau cairan lainnya. Penularan biasanya terjadi saat seseorang sudah mulai menunjukkan gejala penyakit.
Gejala awal Ebola sering terlihat mirip flu biasa sehingga cukup sulit dikenali pada tahap awal. Penderita umumnya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan berat sebelum berkembang menjadi muntah, diare, dan perdarahan.
WHO menyebut tingkat kematian strain Bundibugyo dalam wabah sebelumnya bisa mencapai sekitar 30 sampai 50 persen. Karena itu, keterlambatan deteksi dinilai sangat berbahaya dalam proses penanganannya.
Kasus Ebola kini tidak hanya ditemukan di wilayah pedalaman. Beberapa laporan menyebut penyebaran sudah menjangkau kota besar seperti Kampala di Uganda dan Goma di wilayah timur RD Kongo.
Meski situasinya serius, WHO meminta negara-negara lain tidak panik berlebihan. Lembaga tersebut menilai pembatasan perjalanan internasional dan penutupan perbatasan belum diperlukan karena tidak memiliki dasar ilmiah kuat.
Sampai sekarang Indonesia belum melaporkan adanya pasien positif Ebola. Belum ada pula pernyataan resmi pemerintah yang menyebut ditemukan kasus suspect maupun penularan lokal di Tanah Air.
Namun ancaman tetap diperhatikan karena mobilitas perjalanan internasional masih tinggi. Negara-negara tetangga RD Kongo seperti Rwanda bahkan sudah memperketat pengawasan di wilayah perbatasan mereka.
Baca Juga: WHO Peringatkan Potensi Kenaikan Kasus Hantavirus Global
WHO juga meminta seluruh negara meningkatkan sistem pengawasan kesehatan dan deteksi dini. Langkah itu penting terutama untuk memantau penumpang yang datang dari wilayah terdampak wabah.
Sejumlah ahli kesehatan global menilai wabah ini memang belum mengarah ke pandemi dunia. Akan tetapi, situasinya dianggap cukup kompleks karena penyebaran terjadi di wilayah konflik dengan fasilitas kesehatan yang terbatas.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan mengakui masih ada ketidakpastian besar terkait jumlah kasus sebenarnya. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa wabah Ebola kali ini masih sangat dinamis dan terus dipantau dunia internasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: