Kredit Foto: Cita Auliana
Tekanan terhadap rupiah dan anjloknya pasar saham Indonesia memicu kritik keras dari parlemen. Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, secara terbuka mempertanyakan kinerja Bank Indonesia setelah nilai tukar rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.
Pada perdagangan Senin (18/5), rupiah sempat anjlok hingga Rp17.668 per dolar AS. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terpuruk hampir 5 persen ke level 6.398.
Dalam rapat kerja bersama BI di Gedung DPR RI, Senayan, Primus menilai kondisi tersebut menunjukkan lemahnya respons bank sentral menghadapi tekanan global, termasuk dampak konflik AS-Iran.
"Nilai tukar rupiah kita jeblok di mana sekarang berada di rekor terendahnya terhadap dolar. Indeks kita juga merosot turun di mana Indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya dan mereka sudah rebound bahkan sudah plus," ujarnya, Senin (18/5).
Baca Juga: Rupiah Jebol Lagi ke Rekor Terlemah, Purbaya: Nggak Apa-apa...
Menurut Primus, banyak negara sudah mulai bangkit dari tekanan pasar global, sementara Indonesia justru masih tertinggal cukup jauh.
"Dan Indonesia saat ini masih minus sampai 20 persen. Ini kan bagaimana global mempertanyakan kualitas Bank Indonesia kita, bank sentral ini," katanya.
Ia pun mendesak BI segera mengambil langkah cepat dan konkret untuk memulihkan kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Primus bahkan menilai kredibilitas BI mulai dipertanyakan publik karena dianggap terlalu lamban merespons tekanan terhadap rupiah dan IHSG.
"Menurut saya, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah menyampingkan kredibilitasnya," ujarnya.
Tak berhenti di situ, Primus juga melontarkan pernyataan mengejutkan dengan menyarankan Gubernur BI, Perry Warjiyo, mundur dari jabatannya jika tidak mampu segera memperbaiki kondisi ekonomi saat ini.
"Kalau kita mengambil tindakan gentlement, itu bukan penghinaan, pak. Saya berikan contoh, mungkin sekarang bapak mengundurkan diri. Nggak masalah, tapi itu bukan bentuk penghinaan pak," terangnya.
Menanggapi kritik tersebut, Perry Warjiyo tetap optimistis rupiah akan kembali menguat dalam beberapa bulan mendatang. Ia menilai tekanan terhadap rupiah saat ini hanya bersifat sementara.
“Kami meyakini nanti kami sampaikan langkah-langkahnya lagi sehingga kami meyakini nanti Juli Agustus akan menguat,” kata Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Baca Juga: Purbaya Soal Ucapan Prabowo Orang Desa Tak Pakai Dolar: untuk Menghibur Rakyat
Perry menjelaskan pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor global dan kebutuhan musiman permintaan valuta asing yang meningkat pada periode April hingga Juni.
Menurutnya, saat ini rupiah berada dalam kondisi undervalue atau lebih rendah dibanding nilai fundamental ekonominya.
“Karena April, May, Juni ini ada demand untuk divisa itu besar, untuk biasanya ada kemarin ada jemaah haji, terus kemudian pembayaran dividen, dan juga pembayaran utang, seperti itu ya, jadi itu faktor-faktor seasonal,” urainya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: