Kredit Foto: Unsplash/Waldemar Brandt
Tak hanya itu, harga cip memori otomotif juga melonjak tajam. Permintaan industri kecerdasan buatan (AI) generatif disebut menyerap kapasitas produksi semikonduktor global, sehingga pasokan untuk industri otomotif menjadi lebih terbatas.
Dalam tiga bulan terakhir, harga cip penyimpanan otomotif dilaporkan naik sekitar 180 persen. Sementara memori DDR5 kelas atas melonjak lebih dari 300 persen.
Menurut estimasi UBS, kenaikan harga cip dapat menambah biaya produksi kendaraan pintar sekitar 3.000 yuan hingga 7.000 yuan per unit, atau setara Rp 6,8 juta sampai Rp 15,9 juta.
Selain baterai dan cip, harga aluminium serta tembaga juga terus meningkat. Dampaknya, biaya bahan baku untuk sebuah mobil listrik ukuran menengah bertambah sekitar 1.800 yuan atau hampir Rp 4 juta.
Tekanan biaya tersebut mulai memengaruhi profitabilitas industri otomotif China. Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan margin laba industri otomotif domestik turun menjadi 3,2 persen pada kuartal pertama 2026.
Baca Juga: Jaecoo J5 EV Kembali Kuasai Penjualan Mobil Listrik Indonesia pada April 2026
Bahkan, pada periode Januari-Februari 2026 margin keuntungan industri sempat menyentuh 2,9 persen, level terendah dalam satu dekade terakhir.
Sekretaris Jenderal CPCA, Cui Dongshu, mengatakan produsen NEV premium masih memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya. Namun, merek di segmen menengah ke bawah mulai kesulitan menjaga profitabilitas.
Kondisi ini dinilai membuat persaingan industri otomotif China perlahan bergeser. Jika sebelumnya produsen berlomba memberi diskon besar, kini mereka mulai fokus melakukan penyesuaian harga demi menjaga keberlanjutan bisnis.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: