Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BI Akhirnya Tarik Lagi Modal Asing, Rupiah Disebut Mulai Stabil

BI Akhirnya Tarik Lagi Modal Asing, Rupiah Disebut Mulai Stabil Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia mulai menunjukkan hasil dari langkah agresif menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak ekonomi global dan perang di Timur Tengah. Gubernur Perry Warjiyo mengklaim berbagai kebijakan yang ditempuh bank sentral berhasil menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah sempat memicu keluarnya dana asing dalam jumlah besar pada triwulan I 2026. Namun situasi mulai berubah setelah BI memperkuat strategi stabilisasi nilai tukar dan menaikkan imbal hasil instrumen moneter.

Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu, Perry mengatakan kenaikan bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu langkah utama untuk menarik kembali minat investor asing. Kebijakan itu disebut membantu mengembalikan arus modal yang sebelumnya keluar dari pasar domestik.

“Itu berhasil mendorong portfolio inflow yang di triwulan I terjadi outflow yang besar dan kemudian kita kembalikan menjadi inflow dan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Perry Warjiyo dikutip dari ANTARA.

BI mencatat pada triwulan I 2026 terjadi net outflow sebesar 0,8 miliar dolar AS di tengah meningkatnya tensi global akibat konflik Timur Tengah. Tekanan eksternal tersebut sempat memengaruhi pasar keuangan domestik dan nilai tukar rupiah.

Namun pada triwulan II 2026, arus modal asing mulai kembali masuk ke Indonesia. Hingga 18 Mei 2026, BI mencatat net inflow mencapai 5,5 miliar dolar AS yang terutama berasal dari instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN).

Kembalinya dana asing tersebut disebut dipicu meningkatnya imbal hasil instrumen keuangan domestik setelah BI menaikkan suku bunga SRBI dalam dua bulan terakhir. Pada 13 Mei 2026, bunga SRBI tercatat naik menjadi 6,21 persen untuk tenor enam bulan, 6,31 persen tenor sembilan bulan, dan 6,45 persen tenor 12 bulan.

Selain menaikkan imbal hasil SRBI, BI juga memperkuat berbagai langkah intervensi di pasar valuta asing. Bank sentral meningkatkan intensitas intervensi baik di pasar offshore melalui Non Deliverable Forward (NDF) maupun di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

BI juga melakukan penyesuaian kebijakan transaksi valas untuk menjaga kestabilan rupiah. Kebijakan tersebut meliputi peningkatan threshold transaksi DNDF, swap, hingga pembelian valuta asing tanpa underlying.

Di sisi lain, BI mulai memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi internasional. Langkah itu dilakukan melalui penguatan skema local currency transaction (LCT) dan pengembangan instrumen berbasis offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah.

Perry mengatakan seluruh kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan global yang masih tinggi. BI juga berupaya memastikan kebutuhan valuta asing di dalam negeri tetap terpenuhi saat permintaan musiman meningkat.

Posisi cadangan devisa Indonesia hingga akhir April 2026 juga disebut masih kuat. BI mencatat cadangan devisa berada di level 146,2 miliar dolar AS atau setara pembiayaan 5,8 bulan impor.

Baca Juga: Tok! Bank Indonesia Naikan Suku Bunga 50 Bps Jadi 5,25%

Dalam RDG Mei 2026, BI turut memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Keputusan tersebut menjadi kenaikan pertama setelah suku bunga acuan dipertahankan sejak September 2025.

Sepanjang 2025, BI sebelumnya sempat memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan 125 basis poin. Kini, perubahan arah kebijakan dilakukan sebagai respons terhadap tekanan global dan kebutuhan menjaga stabilitas rupiah.

Bank Indonesia pun optimistis tekanan terhadap rupiah akan mulai mereda dalam beberapa bulan mendatang. Perry meyakini nilai tukar rupiah cenderung menguat pada Juli dan Agustus 2026 seiring menurunnya permintaan valuta asing domestik dan mulai stabilnya arus modal asing.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama

Tag Terkait: