Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Cek Spesifikasi Tameng Rudal Rp 2.800 Triliun Milik AS yang Dikecam China dan Rusia

Cek Spesifikasi Tameng Rudal Rp 2.800 Triliun Milik AS yang Dikecam China dan Rusia Kredit Foto: Boeing
Warta Ekonomi, Jakarta -

Donald Trump meluncurkan konsep sistem pertahanan rudal futuristik bernama “Golden Dome” yang diklaim mampu mencegat serangan rudal dari darat hingga luar angkasa. Proyek pertahanan senilai sekitar 175 miliar dolar atau setara Rp2.800 triliun itu disebut bakal menjadi tameng pertahanan paling canggih dalam sejarah Amerika Serikat.

Golden Dome dirancang untuk bekerja dalam empat tahap pencegatan sekaligus. Sistem tersebut diklaim mampu menghentikan rudal bahkan sebelum diluncurkan, saat baru lepas landas, ketika melintas di udara, hingga beberapa menit sebelum menghantam target.

Trump mengatakan sistem tersebut akan mengintegrasikan berbagai teknologi pertahanan milik AS yang sudah ada sebelumnya. Salah satunya adalah sistem rudal Patriot yang selama ini digunakan untuk menangkal serangan udara dan telah dikirim AS ke Ukraina.

Selain itu, Golden Dome juga akan memanfaatkan jaringan satelit militer di orbit luar angkasa. Satelit tersebut bertugas mendeteksi peluncuran rudal lawan secara real time agar sistem bisa langsung melakukan pencegatan lebih cepat.

“Ini bahkan mampu mencegat rudal, bahkan jika diluncurkan dari luar angkasa,” kata Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Selasa (19/5/2026).

Dalam presentasinya di Gedung Putih, Trump memperlihatkan ilustrasi wilayah daratan AS berwarna emas dengan simulasi pencegatan rudal di udara. Ia juga menunjuk Michael Guetlein untuk memimpin pengembangan proyek Golden Dome.

Sistem Golden Dome nantinya tidak hanya mengandalkan radar darat biasa. Pentagon disebut tengah mengembangkan tambahan satelit tempur dan pencegat rudal berbasis luar angkasa untuk menghadapi rudal hipersonik terbaru milik China dan Rusia.

Rudal hipersonik menjadi ancaman besar bagi AS karena memiliki kecepatan sangat tinggi dan sulit dilacak sistem pertahanan biasa. Karena itu, Golden Dome dirancang agar mampu menghancurkan rudal sejak fase awal peluncuran sebelum mencapai target.

Pemerintah AS menyebut China dan Rusia juga tengah mengembangkan senjata ofensif luar angkasa, termasuk satelit yang dapat melumpuhkan satelit musuh. Kondisi itu membuat Pentagon menilai sistem pertahanan generasi lama sudah tidak lagi cukup menghadapi ancaman perang modern.

Kepala United States Space Force, Chance Saltzman, mengatakan Golden Dome akan membawa misi baru yang belum pernah dijalankan sebelumnya oleh militer luar angkasa AS. Sistem tersebut disebut bakal membuka era baru pertahanan berbasis orbit luar angkasa.

Meski dipromosikan sebagai tameng super canggih, proyek Golden Dome diperkirakan membutuhkan biaya fantastis. Kantor Anggaran Kongres AS memperkirakan komponen luar angkasa proyek tersebut bisa menelan biaya hingga 542 miliar dolar atau sekitar Rp8.700 triliun dalam 20 tahun ke depan.

Baca Juga: Amerika Pamer Kesiapannya Bombardir Wilayah Iran, Siagakan F-35 hingga USS Abraham Lincoln

Trump sendiri menargetkan Golden Dome sudah mulai beroperasi sebelum masa jabatannya berakhir pada 2029. Namun sejumlah pejabat AS mengakui sistem tersebut kemungkinan baru mencapai tahap kemampuan awal karena kompleksitas teknologi yang sedang dikembangkan.

Rencana pembangunan Golden Dome langsung memicu reaksi keras dari China dan Rusia. Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan Vladimir Putin dan Xi Jinping di Beijing, kedua negara menilai proyek itu berpotensi memicu militerisasi luar angkasa dan mengganggu stabilitas keamanan global.

China dan Rusia bahkan memperingatkan bahwa proyek Golden Dome dapat mengubah luar angkasa menjadi arena konfrontasi bersenjata baru. Ketegangan tersebut memunculkan kekhawatiran soal dimulainya perlombaan senjata generasi baru antara kekuatan besar dunia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama