Kredit Foto: Istimewa
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) membagikan hasil survei terkait Profil Internet Indonesia Tahun 2026. Berdasarkan survei tersebut, dari total populasi Indonesia sebanyak 287.303.234 jiwa, tingkat penetrasi internet Indonesia pada 2026 mencapai 81,72% atau setara dengan 235.261.078 jiwa.
Jika dibandingkan dengan tahun lalu, terjadi peningkatan dari 80,66% menjadi 81,72%. Hal ini menunjukkan internet telah menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia di berbagai sektor kehidupan.
Ketua Umum APJII, Muhammad Arif, menyampaikan peningkatan penetrasi internet ini menunjukkan transformasi digital nasional terus bergerak secara progresif dan semakin inklusif.
“Internet saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik masyarakat Indonesia. Hasil survei ini menunjukkan bahwa transformasi digital nasional terus berkembang dan perlu didukung dengan pemerataan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan literasi digital masyarakat,” ujar Muhammad Arif dalam keterangan resmi, dikutip, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Berdasarkan wilayah, Pulau Jawa masih menjadi penyumbang pengguna internet terbesar dengan tingkat penetrasi 85,95% dan kontribusi pengguna sebesar 58,24%. Sementara itu, Maluku dan Papua mencatat tingkat penetrasi terendah sebesar 69,74%.
APJII juga mencatat kesenjangan akses internet antara wilayah urban dan rural mulai mengecil. Tingkat penetrasi internet di wilayah perkotaan mencapai 84,75%, sedangkan wilayah pedesaan sebesar 78,18%.
Dari sisi demografi, penetrasi internet pada laki-laki tercatat sebesar 83,95% dan perempuan 79,79%. Sementara berdasarkan generasi, kelompok Milenial menjadi pengguna internet terbesar dengan penetrasi 90,34%, diikuti Gen Z sebesar 89,02%.
Baca Juga: Internet Diubah Menjadi Privilege, Hanya Bisa Dinikmati Oligarki di Iran
Baca Juga: Efek Serangan Amerika, Kuota Internet 50GB Dibanderol Rp195 Ribu di Iran
Survei juga menunjukkan tingkat pendidikan memiliki korelasi terhadap penggunaan internet. Tingkat penetrasi tertinggi tercatat pada kelompok pendidikan perguruan tinggi sebesar 92,49%, diikuti SMA/SMK sederajat sebesar 90,44%, SMP sederajat sebesar 82,48%, dan tidak sekolah/SD sederajat sebesar 74,84%.
Survei menunjukkan smartphone masih menjadi perangkat utama masyarakat untuk mengakses internet dengan persentase mencapai 84,31%. Mayoritas pengguna menghabiskan waktu 4 hingga 6 jam per hari untuk mengakses internet.
Aktivitas komunikasi dan jejaring sosial menjadi alasan utama masyarakat menggunakan internet dengan persentase 19,9%, disusul hiburan digital seperti streaming dan gim sebesar 19,7%, pencarian informasi dan berita sebesar 19,6%, serta transaksi e-commerce dan layanan digital sebesar 18,7%.
Di sisi lain, APJII menyoroti masih tingginya ancaman keamanan digital di Indonesia. Penipuan daring menjadi kasus yang paling banyak dialami masyarakat dengan persentase 13,6%, diikuti pencurian data pribadi, peretasan, dan phishingsebesar 7,8%.
Karena itu, fitur keamanan yang paling dianggap penting oleh masyarakat adalah anti-penipuan daring sebesar 24%, diikuti fitur anti-judi daring sebesar 21,7% dan anti-pornografi sebesar 20,6%.
Survei juga mencatat pertumbuhan pelanggan internet tetap (fixed broadband) mencapai 99,5 juta jiwa atau tumbuh 3,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Mayoritas pelanggan menggunakan layanan internet kabel atau fiber.
APJII berharap hasil survei tersebut dapat menjadi referensi bagi pemerintah dan pelaku industri dalam menyusun kebijakan pengembangan ekosistem digital nasional yang lebih merata, aman, dan berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri