Diduga Aniaya Staf, Politisi Gerindra Andi Tenri Walinonong Punya Harta Rp1,9 Miliar
Kredit Foto: Instagram
Nama Ketua DPRD Bone, Andi Tenri Walinonong, mendadak menjadi perbincangan publik setelah dilaporkan ke polisi atas dugaan penganiayaan terhadap seorang staf Sekretariat DPRD Bone. Di tengah ramainya kasus tersebut, Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) miliknya ikut menjadi sorotan.
Andi Tenri sendiri dikenal sebagai politisi muda asal Bone yang mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat Ketua DPRD Bone untuk periode 2024-2029. Lahir di Bone pada 28 Desember 1993, ia tumbuh di Kecamatan Ulaweng dari keluarga yang dikenal luas di daerah tersebut.
Karier politiknya melesat pada Pemilu 2024 saat maju sebagai calon legislatif dari Partai Gerindra di Kabupaten Bone. Meski tergolong pendatang baru, Andi Tenri berhasil meraih 7.828 suara, menjadikannya peraih suara terbanyak di internal Gerindra Bone.
Berdasarkan data LHKPN 2024 yang terakhir dilaporkan, Andi Tenri tercatat memiliki total harta kekayaan sebesar Rp1.906.697.280. Sebagian besar kekayaannya berasal dari aset tanah. Andi Tenri tercatat memiliki tiga bidang tanah di Kabupaten Bone dengan nilai keseluruhan Rp1 miliar.
Baca Juga: Jadi Kepala BGN, Harta Kekayaan Sudaryono Capai Rp31,39 Miliar! Ini Rinciannya
Selain itu, ia juga memiliki dua kendaraan, yakni Toyota Vios tahun 2013 dan Mitsubishi Jeep tahun 2016, dengan total nilai Rp450 juta.
Kemudian, Andi Tenri melaporkan harta bergerak lainnya senilai Rp355.825.000 serta kas dan setara kas sebesar Rp100.872.280. Dalam laporannya, ia tercatat tidak memiliki utang maupun surat berharga, sehingga total kekayaannya mencapai Rp1.906.697.280.
Namun, di balik kekayaan dan rekam jejak politiknya yang mulus, Andi Tenri kini menghadapi sorotan setelah dilaporkan ke Polres Bone atas dugaan penganiayaan terhadap seorang staf DPRD Bone pada Rabu (22/7/2026).
Laporan tersebut diajukan oleh Yuli Nofita Sari (29), seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Sekretariat DPRD Bone.
Yuli mengaku menjadi korban dugaan penganiayaan saat berada di kantin DPRD Bone. "Ketua DPRD Bone memanggil saya ke kantin. Setelah sampai di kantin, satu bosara kue dihamburkan ke muka saya, kemudian saya disiram air di muka, dilempar botol, dan dilempar botol lombok," kata Yuli kepada wartawan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri