Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Lebih Buruk dari Perang di Iran: Kematian Dolar AS?

Lebih Buruk dari Perang di Iran: Kematian Dolar AS? Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penulis buku populer Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, menilai ada skenario yang lebih menilai ada skenario yang lebih berbahaya bagi Amerika Serikat (AS) dibandingkan perang dengan Iran.

Ancaman itu adalah kematian dolar AS, menyusul kebijakan terbaru Iran yang mulai menerima pembayaran minyak dalam Yuan China (RMB)..

“LEBIH BURUK DARI PERANG di IRAN. Kematian Dolar AS? Iran mulai menerima pembayaran untuk minyak dalam Yuan China. Apa artinya itu bagi Anda dan masa depan Anda serta masa depan dolar AS?” tulis Kiyosaki di akun X pribadinya, Senin (25/5).

Kiyosaki mendorong masyarakat untuk meningkatkan pendidikan keuangan, salah satunya dengan mendengarkan podcast ekonom Ray Dalio yang menyoroti langkah Iran sebagai “pembunuhan terhadap petro dolar”. Ia menyebut pergeseran ini sebagai salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah keuangan dunia.

"Ray membuatnya sederhana dan menawarkan tindakan konkret yang hampir bisa dilakukan oleh siapa saja untuk tidak menjadi korban dari perubahan dan krisis besar ini dalam uang," jelasnya.

Baca Juga: Iran Dinilai Tak Mungkin Serahkan Uranium ke AS

Baca Juga: Belajar dari Iran: Hukum Gantung Antek Asing, Action Lebih Keras dari Kata

Sebagai informasi, Iran tidak hanya menerima Yuan untuk pembayaran minyak, tetapi juga mewajibkan penggunaan mata uang tersebut dalam transaksi maritim di kawasan Selat Hormuz

Langkah ini menjadi strategi utama Teheran untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS (de-dollarisasi), menghindari jeratan sanksi Barat, sekaligus memperkuat aliansi strategis dengan Beijing di tengah konflik yang berkecamuk sejak awal 2026.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Tag Terkait: