Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Lalu ketiga, tekanan terhadap rupiah juga dipicu arus keluar investasi portofolio serta investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang cenderung stagnan.
Menurut Wijayanto, kombinasi ketiga faktor tersebut membuat pasar semakin berhati-hati menempatkan dana pada instrumen keuangan domestik.
“Rupiah akan ke Rp18.000, ya itu sudah pasti. Sekarang kan sudah Rp17.700 sekian,” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Terpuruk, Nyaris Dekati Level Rp18.000 Jelang Libur Iduladha
Baca Juga: OJK Warning Pelemahan Rupiah Bisa Tekan Industri Pindar
Meski demikian, ia meminta publik tidak langsung membandingkan kondisi pelemahan rupiah saat ini dengan krisis moneter 1998 karena struktur ekonomi dan tingkat inflasi sudah berbeda.
“Kita juga harus mengedukasi masyarakat bahwa kita tidak bisa membandingkan kurs nilai tukar sekarang dengan 1998,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: