Trump Ngamuk Soal Pungutan di Selat Hormuz, Amerika dan Iran Kembali Diambang Perang
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran terkait masa depan kesepakatan damai yang tengah dinegosiasikan kedua negara. Trump mengancam akan langsung menghentikan seluruh proses perundingan jika Teheran terbukti mengenakan biaya atau pungutan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Pernyataan itu disampaikan Trump setelah muncul spekulasi mengenai kemungkinan Iran memberlakukan biaya tertentu bagi kapal yang menggunakan jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga: Prabowo Ingin Masyarakat Lihat Pemerintah Seperti Klub Sepak Bola: Selesai Tanding, Baru Dikoreksi
Menurut Trump, Iran sebelumnya telah memberikan sinyal bahwa tidak akan ada tarif, biaya asuransi tambahan, maupun pungutan lain terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
"Iran telah mengindikasikan bahwa tidak ada tarif, tidak ada biaya asuransi dan tidak ada pungutan apa pun yang diminta atau diterima Iran dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz," ungkap Trump, dikutip Kamis (25/6).
Namun Trump menegaskan, apabila informasi tersebut ternyata tidak benar, maka seluruh proses negosiasi damai akan langsung dihentikan.
"Jika informasi ini ternyata palsu, maka negosiasi akan berakhir seketika!" tegas Trump.
Saat ditanya wartawan mengenai kemungkinan Iran memungut biaya bagi kapal yang melintas, Trump juga menunjukkan sikap keras.
"Itu tidak akan bisa saya terima," kata Trump.
Ancaman tersebut muncul di tengah upaya Amerika Serikat dan Iran membangun kesepakatan permanen pascaperang yang sempat mengguncang kawasan Timur Tengah selama beberapa bulan terakhir.
Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling sensitif dalam perundingan kedua negara. Jalur laut sempit itu merupakan urat nadi perdagangan energi global karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Sebelumnya, penutupan Selat Hormuz oleh Iran sempat memicu lonjakan harga energi dunia dan meningkatkan ketegangan internasional. Karena itu, pembukaan kembali jalur tersebut menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran.
Meski demikian, dari pihak Iran muncul sinyal bahwa Teheran tidak ingin dianggap menyerahkan kendali atas Selat Hormuz kepada tekanan pihak luar.
Juru Bicara Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan regional terkait status jalur pelayaran tersebut.
"Republik Islam tidak menguasai Selat Hormuz melalui negosiasi, sehingga tidak akan menyerahkannya melalui negosiasi," ungkap Rezaei di platform X.
Ia juga menambahkan bahwa Iran tidak akan dipengaruhi oleh pihak mana pun dalam menentukan kebijakannya terkait Selat Hormuz.
Pernyataan saling berseberangan itu menunjukkan bahwa meski negosiasi damai masih berjalan, sejumlah isu strategis masih berpotensi memicu ketegangan baru antara Washington dan Teheran.
Baca Juga: Amerika: Israel Tak Akan Duduki Lebanon Jika Pemerintahan Mereka Bisa Amankan Wilayahnya Sendiri
Bagi Trump, kepastian bahwa Selat Hormuz tetap terbuka tanpa biaya tambahan menjadi syarat penting untuk melanjutkan proses perdamaian. Sementara bagi Iran, jalur laut tersebut tetap dianggap sebagai bagian dari kepentingan strategis nasional yang tidak bisa ditentukan melalui tekanan pihak luar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: