Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (28/5/2026).
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.11 WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.855,5 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan rupiah melemah 54,5 poin atau 0,31% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, melihat bahwa pelemahan terjadi hari ini atau momentum libur Iduladha dan cuti bersama sudah cukup luar biasa. Ia bahkan memperkirakan mata uang Garuda hingga sore akan melemah hingga 100 poin menuju Rp17.900 per USD.
"Bisa saja dalam perdagangan di sampai sore ini rupiah akan melemah di Rp17.900," kata Ibrahim kepada wartawan, Kamis (28/5/2026).
Ibrahim memperkirakan dalam pembukaan pasar Jumat besok, rupiah akan mendekati level psikologis di Rp18.000 per USD. Kemungkinan tersebut dipengaruhi faktor dari sisi eksternal maupun internal.
Dari sisi eksternal, kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah masih memanas di mana Amerika Serikat melakukan penyerangan terhadap wilayah Iran Selatan. Serangan tersebut memicu terjadinya balasan dari pihak Iran.
"Di sisi lain pun juga dalam rapat di Gedung Putih, Donald Trump pun juga mengancam akan menyerang Oman juga sebagai negara negosiasi yang mendukung kebijakan perdamaian antara Iran dan Amerika," kata dia.
Amerika Serikat, disebut Ibrahim, sedang mempersiapkan perang skala besar dengan Iran menurut data intelijen dari Rusia. Bahkan Amerika akan menggunakan milisi ISIS di Suriah untuk melakukan penyerangan terhadap Iran. Di sisi lain kapal-kapal besar canggih Amerika sudah mendarat di Israel.
"Artinya apa? Bahwa kemungkinan besar dalam jeda waktu gencatan senjata ini akan digunakan oleh Amerika dan Israel untuk memperkuat posisinya untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran. Kesepakatan ya antara Amerika dan Iran itu cuma sebagai kedok saja," ungkap dia.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp17.855 per Dolar
Baca Juga: Purbaya Tak Habis Pikir Rupiah Bisa Tembus Rp17.800: Nggak Masuk Akal Sebenarnya!
Sementara dari sisi internal, lanjut Ibrahim, pelemahan rupiah terjadi akibat harga minyak yang naik cukup tinggi. Ini membuat kebutuhan dolar ikut terkerek.
Disaat yang sama terjadi tren musiman pembagian dividen. Ini membuat perusahaan-perusahaan asing di Indonesia melakukan konversi rupiah ke dolar untuk mengirimkan dividen kembali ke negara asal mereka, meningkatkan tekanan jual terhadap rupiah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: