Kredit Foto: Antara/Yusuf Nugroho
Target Indonesia menuju swasembada gula pada 2028 terus dikebut oleh PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), salah satunya melalui penyerapan hasil panen petani tebu. Tahun ini, perusahaan pelat merah tersebut mulai memperluas penyerapan ke wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, guna menyelamatkan hasil panen di tengah belum beroperasinya Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM).
Perwakilan Regional Head 1 Jawa Tengah PT SGN, Edy Purnomo, mengatakan situasi yang dihadapi petani tebu Blora saat ini cukup kompleks. Belum beroperasinya PG GMM membuat petani harus mencari alternatif pabrik gula lain untuk menggiling tebunya. Namun, persoalan jarak angkut dan nilai bagi hasil menjadi tantangan tersendiri.
“Pertemuan antarperwakilan APTRI, petani tebu Kabupaten Blora, dan PG Rendeng PT SGN menghasilkan komitmen penyerapan tebu petani Blora dengan kemampuan 150–200 rit per hari untuk menyelamatkan tebu petani Blora karena belum beroperasinya PG GMM,” terang Edy.
Edy menjelaskan, PT SGN siap menyerap tebu petani Blora dengan kapasitas sekitar 150 hingga 200 rit per hari. Langkah ini diambil sebagai solusi jangka pendek agar tebu petani tidak terlambat digiling yang dapat menurunkan rendemen dan kualitas produksi gula nasional.
Lebih lanjut, Edy mengungkapkan langkah tersebut mendapatkan apresiasi dari Bupati Blora karena PT SGN dinilai membantu menyerap hasil panen petani tebu Blora melalui sejumlah pabrik gulanya. APTRI juga berharap upaya penyelamatan tebu petani Blora mendapat dukungan seluruh pihak terkait.
“Bupati menugaskan Kadisperta Blora untuk memetakan tebu petani per kecamatan dan kelurahan untuk diakomodasi PT SGN. Bupati Blora dan Forkopimda mendorong agar proses penyerapan berjalan cepat sehingga tidak terjadi penumpukan tebu di lahan petani. Sebab, keterlambatan tebang dan giling dapat menyebabkan penurunan kadar gula serta kerugian ekonomi bagi petani,” lanjutnya.
Sementara itu, Direktur Operasional PT SGN, Kuntoro Boga Andri, mengatakan pihaknya hadir untuk memastikan hasil panen petani tetap terserap dan musim giling berjalan optimal di tengah tantangan operasional yang ada.
“PT SGN berupaya memberikan solusi terbaik bagi petani tebu Blora agar hasil panen tetap terselamatkan. Kami terus melakukan koordinasi lintas pabrik gula untuk mengatur kapasitas giling dan distribusi tebu secara bertahap sehingga pelayanan kepada petani tetap berjalan optimal,” kata Kuntoro dalam keterangan resminya kepada Warta Ekonomi di Surabaya.
Kuntoro mengakui secara nasional industri gula tengah menghadapi tantangan serius, mulai dari penurunan produktivitas lahan, meningkatnya biaya produksi, hingga kebutuhan modernisasi pabrik gula. Pemerintah sendiri terus mendorong percepatan swasembada gula konsumsi melalui revitalisasi pabrik gula dan penguatan kemitraan dengan petani tebu.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan Jawa Tengah menjadi salah satu sentra produksi tebu penting di Indonesia. Kabupaten Blora termasuk daerah yang memiliki potensi pengembangan tebu rakyat cukup besar. Oleh karena itu, keberlangsungan musim giling tahun ini menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas produksi gula nasional.
Menurut Kuntoro, langkah cepat PT SGN menjadi bentuk nyata dukungan BUMN gula terhadap petani di tengah situasi yang belum ideal. Dengan penyerapan bertahap melalui PG Rendeng dan sejumlah pabrik gula SGN lainnya di Jawa Tengah maupun Madiun, diharapkan hasil panen petani Blora tetap terselamatkan dan rantai pasok gula nasional tetap terjaga.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Mochamad Ali Topan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: