Di Balik Keseleo Lidah Prabowo Jadi Masalah Besar: Inilah Bangsa Kita, Mengapa Tak Kunjung Maju...
Kredit Foto: Istimewa
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang belakangan menuai sorotan kembali menjadi perdebatan. Mulai dari narasi soal dokter terbang dan ambulans terbang hingga pernyataan mengenai pekerja pengupas bawang yang disebut menerima upah Rp700 ribu per kilogram, kesalahan penyebutan tersebut ramai dibahas publik.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ferdinand Hutahaean meminta hal tersebut tidak dibesar-besarkan oleh masyarakat. Menurutnya, ada persoalan bangsa yang jauh lebih besar dan mendesak untuk dibicarakan.
Baca Juga: Amien Rais: Solo Punya Target Politik Tunggal, Yakni Gagalkan Pemerintahan Prabowo
"Inilah bangsa kita, mengapa tidak kunjung maju, mengapa bangsa kita tidak kunjung menemukan jalan menuju Indonesia Hebat," ujar Ferdinand, dikutip Rabu (19/8/2026).
Menurut Ferdinand, kebiasaan memperbesar persoalan yang dianggapnya tidak substantif justru menunjukkan kualitas diskusi publik yang belum menyentuh akar persoalan bangsa.
"Mengapa demikian? Saya melihat belakangan ini ada banyak politisi, lembaga swadaya masyarakat, dan aktivis yang hanya mempersoalkan hal-hal yang tidak substantif dalam persoalan bangsa," tukasnya.
Ia kemudian menyinggung berbagai pernyataan Prabowo yang menjadi bahan kritik dalam beberapa waktu terakhir.
"Mereka lebih suka berbicara tentang hal-hal yang tidak menjadi bagian pokok masalah bangsa," tuturnya.
"Mereka lebih memilih meributkan narasi presiden soal penggilingan padi, soal buruk tukang kupas bawang, soal dokter terbang, ambulans terbang," tambah Ferdinand.
Ferdinand menilai kesalahan pengucapan atau kekeliruan narasi seorang pejabat publik memang dapat dikritik. Namun, menurut dia, persoalan tersebut tidak semestinya menggeser perhatian dari masalah struktural yang jauh lebih berat.
"Apa gunanya kita mempersoalkan narasi-narasi yang kepleset, salah ucap, salah baca, enggak penting," timpalnya.
Ia kemudian mengingatkan bahwa negara saat ini menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan. Kondisi ekonomi global, kesehatan kas negara serta beban utang negara jauh lebih layak menjadi perhatian masyarakat.
"Sekarang masalah bangsa ini jauh lebih besar, bagaimana kesiapan kita dengan kondisi ekonomi global seperti ini dan kondisi kas negara kita yang patut kita khawatirkan dengan beban utang yang besar," tegasnya.
Ferdinand melihat perdebatan mengenai ucapan presiden berisiko membuat publik kehilangan fokus terhadap persoalan yang benar-benar berdampak pada kehidupan masyarakat. Terlebih, menurutnya, rakyat juga sedang menghadapi berbagai tekanan ekonomi, termasuk persoalan pajak dan subsidi.
"Jangan lagi sekarang rakyat terbeban pajak besar, terbeban subsidi yang dikurangi. Tapi kita sibuk soal hal-hal yang tidak penting," tegas Ferdinand.
Menurut Ferdinand, kritik kepada pemerintahan tetap diperlukan, tetapi harus diarahkan pada kebijakan dan persoalan yang substansial. Ia mengajak masyarakat bersama-sama mencari jalan keluar dari berbagai persoalan yang sudah berlangsung lama.
"Tunjukkanlah kita ini adalah masyarakat yang berkelas yang mencintai bangsa ini. Jangan sibuk dengan urusan remeh-temeh ini," tandasnya.
Ferdinand pun menutup pandangannya dengan mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan besar, salah satunya menghadapi persoalan utang.
"Kita punya banyak urusan yang jauh lebih penting. Membawa bangsa ini keluar dari jerat utang ini, harus kita pikir," kuncinya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menjadi perhatian karena pidatonya soal upah pengupas bawang Rp700 ribu per kilogram memicu kehebohan publik di media sosial.
Prabowo diketahui memperkenalkan sosok Susana, buruh harian pengupas bawang dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang disebut menerima upah fantastis.
"Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram," kata Prabowo.
Baca Juga: Soal Diam-diam Lakukan Koordinasi Terkait Polemik Ijazah dengan Jokowi, Begini Kata UGM
Adapun Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengatakan angka yang tercantum dalam naskah pidato sebenarnya Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu. Ia menilai salah sebut angka merupakan hal yang manusiawi dan dapat terjadi ketika seseorang berbicara dalam durasi panjang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar