MBG Lebih Dibutuhkan Anak-anak Indonesia di Malaysia daripada di Arab Saudi, Begini Kata DPR
Kredit Foto: Istimewa
Rencana menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, memunculkan usulan lain dari DPR RI. Jika pemerintah ingin memperluas program ke luar negeri, Malaysia dinilai lebih layak menjadi prioritas utama.
Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago menilai jumlah anak buruh migran Indonesia di Malaysia jauh lebih besar dibandingkan komunitas pelajar Indonesia di Arab Saudi. Karena itu, kebutuhan mereka dinilai lebih mendesak untuk mendapatkan perhatian negara.
Baca Juga: Jokowi Takut Masuk Penjara Gegara Kebijakannya Saat Masih Jadi Presiden Indonesia, Ini Kata PDIP
"Nggak usah jauh-jauh ke Saudi, anak-anak BMI di Malaysia jauh lebih banyak dan butuh perhatian," katanya, dikutip Rabu (3/6).
Menurut Irma, secara prinsip seluruh anak warga negara Indonesia di luar negeri memiliki hak yang sama untuk memperoleh manfaat program pemerintah. Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus menentukan prioritas secara rasional.
"Jika bicara hak, anak-anak BMI (buruh migran Indonesia) di seluruh dunia juga berhak mendapatkan program yang sama. Namun lihat juga kemampuan fiskal negara untuk bisa melaksanakan itu, belum lagi nanti kontrolnya di tiap negara yang minta juga," ungkapnya.
Ia menilai faktor jumlah penerima manfaat dan tingkat kebutuhan harus menjadi pertimbangan utama sebelum pemerintah menjalankan proyek percontohan MBG di luar negeri.
Irma juga mengingatkan bahwa perluasan program ke berbagai negara berpotensi menimbulkan tuntutan serupa dari komunitas pekerja migran Indonesia lainnya. Situasi tersebut dapat menjadi tantangan baru bagi pemerintah dalam hal pendanaan maupun pengawasan.
Pernyataan itu muncul setelah Eks Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengungkap kemungkinan menghadirkan MBG di Sekolah Indonesia Jeddah yang memiliki sekitar 1.081 siswa, mayoritas anak pekerja migran Indonesia.
Dadan mengatakan usulan tersebut berangkat dari aspirasi para siswa yang ingin merasakan program yang saat ini telah berjalan di Indonesia. Ia bahkan menyebut Jeddah dapat menjadi proyek percontohan sebelum diterapkan di lokasi lain yang memiliki konsentrasi pekerja migran Indonesia.
Namun bagi DPR, apabila pemerintah benar-benar membuka program MBG lintas negara, Malaysia dinilai sebagai wilayah yang lebih relevan untuk menjadi prioritas pertama. Selain memiliki jumlah pekerja migran Indonesia yang besar, kebutuhan dukungan sosial bagi keluarga migran di negara tersebut juga dinilai lebih luas.
Baca Juga: ‘Tanpa Saya, Anda Sudah Dipenjara,’ Netanyahu Diamuk Trump Gegara Rusak Upaya Negosiasi Amerika-Iran
Perdebatan ini menunjukkan bahwa perluasan MBG ke luar negeri bukan hanya soal pemerataan manfaat, tetapi juga menyangkut strategi penentuan prioritas di tengah keterbatasan sumber daya negara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar