Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Refly Harun dan Roy Suryo Bahas Ramalan Notogoro: Era Kekacauan Pasca SBY?

Refly Harun dan Roy Suryo Bahas Ramalan Notogoro: Era Kekacauan Pasca SBY? Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat politik Refly Harun bersama mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo membahas mitos politik populer yang dikenal dengan ramalan Notogoro.

Refly menjelaskan, dalam ramalan tersebut terdapat pola suku kata nama presiden Indonesia. Presiden pertama Soekarno masuk dalam kategori "No", Presiden kedua Soeharto masuk kategori "To", dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali masuk kategori "No".

"Iya, jadi Soekarno dihitung, Soeharto dihitung. Gus Dur karena peralihan enggak dihitung, yang Megawati enggak dihitung. Nah, baru Yodhoyono dihitung 'No'," ungkap Refly, dikutip dari YouTube Refly Harun, Rabu (3/6).

Ia kemudian bersama Roy Suryo menyinggung periode setelah SBY yang disebut sebagai masa "goro-goro", istilah dalam budaya Jawa yang berarti kekacauan atau huru-hara.

"Setelah itu 10 tahun lagi kan goro-goro ini," ujar Refly Harun.

Baca Juga: Roy Suryo Apresiasi Usulan PDIP untuk Akhiri Polemik Ijazah Jokowi

Sebagai informasi, ramalan Notogoro atau Notonegoro merupakan mitos politik populer dalam kebudayaan Jawa. Mitos ini diyakini berakar dari Jangka Jayabaya, ramalan Raja Kadiri Jayabaya yang terkenal dengan prediksi masa depan Nusantara.

Secara etimologi, kata Notonegoro terdiri dari dua suku kata: Noto (menata, mengatur, memimpin) dan Negoro (negara). Harapannya, pemimpin yang masuk dalam ramalan ini adalah sosok Satrio Piningit atau Ratu Adil yang mampu menata negara menuju kemakmuran dan keadilan (gemah ripah loh jinawi).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Tag Terkait: