Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Fokus Efisiensi Anggaran MBG, Bos Baru BGN Minta Izin Prabowo Tak Kejar Kuantitas

Fokus Efisiensi Anggaran MBG, Bos Baru BGN Minta Izin Prabowo Tak Kejar Kuantitas Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru setelah pergantian pimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN).

Di tengah sorotan publik pasca terungkapnya kasus dugaan korupsi yang menyeret sejumlah mantan petinggi BGN, Kepala BGN yang baru, Nanik S Deyang, langsung menyiapkan langkah besar untuk membenahi program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Alih-alih hanya mengejar target jumlah penerima manfaat, Nanik menegaskan fokus utama BGN saat ini adalah memperbaiki kualitas pelaksanaan program. Bahkan, sejumlah kebijakan efisiensi dan penataan ulang sasaran penerima telah disiapkan agar MBG tetap berjalan meski anggaran mengalami pemangkasan.

“Kami concern hal pertama yang kami lakukan adalah untuk melakukan efisiensi anggaran, sehingga meskipun sekarang sudah dipotong Rp2 (triliun), tinggal Rp268 (triliun), kami berharap masih bisa menurunkan lagi, namun tidak mengurangi sasaran,” katanya dalam konferensi pers di BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Untuk mencapai tujuan tersebut, BGN menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah melakukan refocusing atau penataan ulang penerima manfaat program agar bantuan benar-benar tepat sasaran.

Selain itu, BGN juga memutuskan memberlakukan moratorium pembangunan dapur baru. Fokus lembaga saat ini adalah membenahi dapur-dapur yang sudah beroperasi agar memenuhi standar penyediaan makanan bergizi.

Baca Juga: Sehari Setelah Diperingatkan Presiden, Dugaan Keracunan MBG Kembali Terjadi di Bangkalan

Perbaikan tersebut mencakup peningkatan fasilitas hingga pelatihan sumber daya manusia yang bertugas mengelola dapur MBG. “Artinya, bila dapur itu tidak sesuai, tentu kami akan lakukan suspend,” ungkap dia.

Tak hanya itu, BGN juga tengah mencari berbagai skema alternatif untuk menjalankan program MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) agar pelaksanaannya tidak terlalu membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut Nanik, perubahan strategi ini juga merupakan hasil arahan yang telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

"Jadi gini dampaknya ya, kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, 'Tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas, kami akan perbaiki kualitas'," ujar Nanik.

Ia menegaskan, BGN tidak lagi hanya berorientasi pada pencapaian target 82 juta penerima manfaat semata. Yang lebih penting adalah memastikan setiap dapur benar-benar mampu menyediakan makanan bergizi sesuai standar.

"Misalnya nanti akan kita juga kalau ada sekolah-sekolah yang mahal gitu kan kita tanya apakah masih perlu MBG? Nah, ini yang kita alihkan ke 3T," terang Nanik.

Dengan refocusing tersebut, bantuan akan diarahkan ke wilayah-wilayah prioritas yang selama ini membutuhkan perhatian lebih besar, termasuk daerah 3T dan kelompok yang dianggap paling rentan.

Baca Juga: 'Nanti Ada Kaitannya,' BGN Kembali Rekrut Jenderal TNI untuk Awasi Program MBG

"Tapi tambahannya ini sebetulnya mengurangi dari yang tidak fokus mungkin selama ini. Sekarang kita fokuskan. Kan sekarang kan semua sekolah dikasih, nah sekarang kita fokuskan adalah ke 3T dan terutama untuk 3B," paparnya.

Lebih lanjut, Nanik juga menyatakan bahwa pihaknya saat ini akan menghentikan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan fokus mengevaluasi serta memperbaiki dapur yang sudah ada. 

"Jujur sekarang (SPPG) yang numpuk ini di aglomerasi. Yang 3T belum kesentuh, jadi Pak Presiden pesannya kami harus ke 3T dulu," ujar Nanik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri