Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tekanan Global dan Revisi OECD Bikin Rupiah Berada di Rp18.036 pada Penutupan Pekan Ini

Tekanan Global dan Revisi OECD Bikin Rupiah Berada di Rp18.036 pada Penutupan Pekan Ini Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat akhir pekan (5/6/2025). Mata uang Garuda menguat 13 poin berada di level Rp18.036 dari penutupan sebelumnya di Rp18.049 per USD.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah justru dipicu oleh pemangkasan proyeksi ekonomi Indonesia dilakukan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Lemabaga tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026  menjadi 4,7% pada 2026, turun dari 4,8% dalam laporan sebelumnya. 

"OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi baru kembali menguat ke level 5% pada 2027 setelah tekanan eksternal mulai mereda," ungkap dia kepada wartawan.

OECD menilai kenaikan biaya energi dan ketidakpastian global akan membebani konsumsi rumah tangga serta investasi, seiring pelemahan pasar tenaga kerja domestik. 

Meski melambat, ekonomi Indonesia dinilai masih lebih resilien dibandingkan banyak negara berkembang lain karena ketergantungan yang lebih rendah terhadap impor energi dari kawasan tersebut. 

OECD mencatat ekonomi Indonesia sebenarnya memulai 2026 dengan cukup kuat. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,6% secara tahunan pada kuartal I/2026, ditopang permintaan domestik dan belanja pemerintah yang melonjak 21,8%.

Baca Juga: Rupiah Rp18.000, Fadli Zon: Depresiasi RI Tak Ada Apa-apanya Dibanding Lira Turki

Baca Juga: Said Abdullah Ingatkan Pemerintah: Rupiah Itu Paling Tinggi Tidak Boleh Melebihi Batas Rp17.600

Sementara dari sisi eksternal, penguatan terjadi dipicu oleh dinamika konflik Global. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem pada hari Kamis menolak kesepakatan yang dimediasi AS antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran.

Iran telah menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat untuk setiap kesepakatan perdamaian dengan Washington. 

"Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa ia percaya kemajuan sedang dicapai antara Israel dan Lebanon dan bahwa Lebanon pantas mendapatkan perdamaian," kata dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Dwi Aditya Putra