Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pidato Lama Prabowo Soal Rupiah Melemah Era Jokowi Kembali Ramai

Pidato Lama Prabowo Soal Rupiah Melemah Era Jokowi Kembali Ramai Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Ardianto Satriawan, kembali mengungkit pidato lama Presiden Prabowo Subianto yang menyoroti pelemahan rupiah sebagai cerminan ekonomi yang lemah.

Melalui akun X pribadinya, Ardianto mengungah vidio pidato Prabowo yang berbicara mengenai rupiah yang terus melemah di hotel Sari Pacific, Jakarta Pusat, Sabtu (22/9/2018).

Ardianto pun menyoroti 8 poin yang disampaikan Prabowo yang saat itu masih menjadi capres penantang Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

"MATA UANG YANG LEMAH CERMINAN EKONOMI LEMAH. 1) Mata uang yang lemah itu adalah cermin daripada ekonomi yang lemah, 2) Kalau ekonomi kuat, mata uang kita kuat, 3) Artinya, dengan penurunan kekuatan rupiah, 4) Kalau 5 tahun lalu 1 dolar adalah 9 ribu, sekarang 1 dolar adalah 15 ribu, 5) Berarti turun nilainya 6 ribu; 6 ribu dari 9 ribu," tulisnya, dikutip Senin (8/6).

"6) Kalau matematika itu bagus dulu. Berarti hilang kekayaan 30%, 7) Bayangkan. Dengan upaya, kita harus tambah upaya untuk mendapat hasil yang sama, 8) Jadi kesimpulannya, semua indikator yang ada menunjukkan kita berada dalam kondisi yang tidak baik. PRABOWO SUBIANTO - 22 September 2018," imbuhnya.

Unggahan ini sontak memicu banyak komentar netizen, karena muncul di saat rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS.

"Dulu dia bilang dari 9 ribu ke 15 ribu udah hilang 30% kekayaan. sekarang… ya gitu deh

yang dulu paling vokal kritik, sekarang lagi di kursi paling depan. Ironi Indonesia banget sih. semoga aja kata-kata beliau dulu bisa jadi pengingat buat sekarang juga," tulis netizen dengan akun @bloomn****.

Pada perdagangan Senin pagi, 8 Juni 2026, rupiah dibuka di level Rp18.107 per dolar AS, melemah 0,39% atau turun 71 poin dibandingkan penutupan pekan lalu.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah telah menggelontorkan dana intervensi Rp8 triliun ke pasar surat utang (bond market) untuk menahan pelemahan lebih dalam. 

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan stimulus ekonomi baru guna menjaga daya beli masyarakat.

Baca Juga: Fadli Zon: Prabowo Pantau Percakapan Masyarakat di Media Sosial

Hal tersebut disampaikan Purbaya usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

“Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bonds, termasuk Panda Bonds di China dengan bunga lebih rendah sehingga kita tidak terlalu bergantung pada dolar. Diversifikasi akan lebih baik ke depan,” jelas Purbaya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya