Rupiah Terus Terpukul, Purbaya: Kita Tidak sedang Menuju 1997-1998 Lagi
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Kekhawatiran publik terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menjadi perbincangan. Kondisi tersebut bahkan memunculkan spekulasi bahwa Indonesia berpotensi menghadapi krisis ekonomi seperti yang terjadi pada 1997-1998.
Namun, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa situasi saat ini sangat berbeda dengan krisis yang pernah mengguncang Indonesia hampir tiga dekade lalu. Menurutnya, fondasi ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang kuat.
Dalam agenda kunjungan kerja ke Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Purbaya memastikan bahwa Indonesia tidak sedang berada di jalur menuju krisis ekonomi, keuangan, maupun moneter seperti era 1997-1998.
“Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus, hanya ada sentimen negatif di sana-sini yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar," katanya, dikutip dari Antara, Senin (8/6).
Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu oleh sentimen yang berkembang di pasar, bukan karena lemahnya kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Ekonomi Dibilang Morat-Marit, Purbaya Bongkar Biang Kerok Sebenarnya: Bukan MBG atau Kopdes!
"Tapi itu harusnya bisa diperbaiki dengan kombinasi yang lebih baik antara pemerintah, Kementerian Keuangan dengan bank sentral,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Pelemahan itu memicu kekhawatiran sejumlah pihak yang mengaitkannya dengan gejala krisis seperti yang pernah terjadi pada akhir 1990-an.
Meski demikian, Purbaya menegaskan kondisi saat ini jauh berbeda. Ia meyakini penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia dapat membantu memperkuat kembali nilai tukar rupiah dalam waktu mendatang.
Menurutnya, sinkronisasi yang dimaksud mencakup peningkatan daya tarik instrumen keuangan domestik melalui imbal hasil yang kompetitif agar aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga akan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Salah satu caranya melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia, disertai peningkatan remunerasi yang dibayarkan BI kepada pemerintah.
Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan stabilitas pasar keuangan sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Purbaya juga menilai kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan pemangku kepentingan terkait dapat memberikan dampak positif bagi dunia usaha, terutama bagi sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Baca Juga: Rupiah dan IHSG Terpukul, Istana Blak-blakan Sebut Ada Spekulan Nakal
Dengan nilai tukar yang lebih stabil, biaya produksi perusahaan dapat ditekan sehingga tidak menambah beban bagi pelaku usaha maupun masyarakat.
“Kita akan pastikan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Yang saya bisa katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonominya bagus, kepemimpinan Bapak Presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan Bapak Presiden,” ucap dia.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan pemerintah bahwa meski rupiah sempat tertekan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih ditopang oleh fundamental yang dinilai kuat dan jauh dari situasi krisis seperti yang pernah terjadi pada 1997-1998.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: