Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Baru Dilantik, Nanik Langsung Benahi BGN: Profesor Gizi dan Dokter Anak Kawal MBG

Baru Dilantik, Nanik Langsung Benahi BGN: Profesor Gizi dan Dokter Anak Kawal MBG Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang langsung menyiapkan langkah pembenahan internal usai dilantik Presiden Prabowo Subianto. Salah satu fokus awalnya adalah memperkuat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan melibatkan profesor gizi dan dokter anak dalam Dewan Pengarah BGN.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat Program MBG menjadi salah satu program prioritas pemerintah yang menyasar jutaan anak di seluruh Indonesia. Keterlibatan para ahli diharapkan mampu memastikan kualitas gizi dan pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan.

Nanik menjelaskan Dewan Pengarah sebenarnya sudah menjadi bagian dari struktur organisasi BGN sejak lembaga itu dibentuk. Namun, ke depan lembaga tersebut akan diperkuat dengan kehadiran para pakar yang memiliki kompetensi di bidang gizi dan kesehatan anak.

Menurutnya, Dewan Pengarah akan berperan memberikan arahan serta pendampingan kepada pimpinan BGN dalam menjalankan berbagai program yang menjadi tanggung jawab lembaga tersebut. Dengan demikian, kebijakan yang diambil dapat lebih berbasis pada pertimbangan ilmiah.

"Dari Badan Gizi Nasional berdiri itu ada Dewan Pengarah. Di Dewan Pengarah inilah akan kami isi dengan para profesor ahli gizi dan juga dokter anak," ujar Nanik di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Nanik mengungkapkan Dewan Pengarah nantinya akan beranggotakan tujuh orang. Dari jumlah tersebut, mayoritas anggota diperkirakan berasal dari kalangan pakar gizi.

"Jadi nanti yang akan membimbing kami nanti adalah Dewan Pengarah yang terdiri dari tujuh orang. Mungkin di antara tujuh orang itu lima kemungkinan mereka adalah dari pakar-pakar gizi," katanya.

Selain pakar gizi, BGN juga akan melibatkan dokter anak dalam struktur Dewan Pengarah. Kehadiran tenaga medis tersebut diharapkan mampu memperkuat aspek kesehatan sekaligus memastikan kebutuhan gizi penerima manfaat program terpenuhi secara optimal.

Keterlibatan para ahli tersebut menjadi sinyal bahwa BGN ingin memperkuat kualitas pelaksanaan Program MBG melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan. Terlebih, program tersebut menjadi salah satu proyek strategis nasional yang mendapat perhatian besar dari pemerintah.

Di sisi lain, Nanik juga menyinggung persoalan pengelolaan dapur MBG yang selama ini menjadi perhatian berbagai pihak. Ia menegaskan tidak ada aturan yang mewajibkan yayasan pengelola dapur memiliki afiliasi dengan sekolah.

Menurutnya, petunjuk teknis pelaksanaan program tidak pernah mensyaratkan hubungan khusus antara yayasan pengelola dan institusi pendidikan. Karena itu, peluang untuk terlibat dalam program tetap terbuka bagi berbagai yayasan yang memenuhi ketentuan.

"Yayasan itu boleh saja, tidak ada syaratnya berafiliasi dengan sekolah. Tapi memang diutamakan, dulu Pak Presiden ketika mendirikan BGN itu adalah yayasan-yayasan yang bergerak dalam bidang sosial, kemudian pendidikan, dan juga agama-agama apa saja," jelasnya.

Baca Juga: BGN Menyisir Dapur di Serang, Ini Responsnya Soal Isu Markup Seratus Persen Harga Roti MBG

Nanik mengatakan prioritas tersebut diberikan karena yayasan sosial, pendidikan, dan keagamaan dinilai memiliki pengalaman dalam melayani masyarakat. Namun demikian, tidak ada pembatasan khusus yang mengharuskan yayasan pengelola dapur MBG berasal dari lingkungan sekolah.

Langkah memperkuat Dewan Pengarah dengan melibatkan profesor gizi dan dokter anak menjadi salah satu kebijakan awal Nanik setelah dipercaya memimpin BGN. Upaya itu sekaligus menunjukkan komitmen untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan dengan standar yang lebih terukur dan mendapatkan pendampingan langsung dari para ahli.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama