Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tiyo Sekarang Kritis dan Deretan Aktivis Mahasiswa yang Kini Jadi Politikus Partai dan Komisaris

Tiyo Sekarang Kritis dan Deretan Aktivis Mahasiswa yang Kini Jadi Politikus Partai dan Komisaris Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) 2025, Tiyo Ardianto, mengungkapkan adanya upaya penyuapan bernilai fantastis yang menyasar dirinya selaku pimpinan gerakan mahasiswa. Tiyo mengaku dihubungi oleh pihak yang mengatasnamakan "lembaga berbintang" dan dijanjikan uang miliaran rupiah sebagai "jatah" kompensasi.

Menjadi tantangan bagi Tiyo, karena fenoma sikap kritis mahasiswa dibeli oleh penguasa adalah barang purba, alias sudah ada sejak dulu. Kooptasi gerakan mahasiswa yang kian marak sudah banyak contoh, galak ketika mahasiswa lalu jinak kemudian ketika sudah jadi 'antek-antek rezim'.

Pengakuan tersebut disampaikan Tiyo, dan menegaskan telah menolak mentah-mentah tawaran uang tersebut demi menjaga integritas kelompok yang dipimpinnya.

Tiyo tegas menolak tawaran 'jatah' untuk pimpinan gerakan dengan nilai miliaran rupiah, klaimnya

Kasus yang menimpa Tiyo mencuat di tengah meningkatnya sorotan dan kecurigaan publik terhadap kemurnian aksi-aksi mahasiswa belakangan ini. Fenomena gerakan "pesanan" atau titipan dinilai rawan mengkooptasi posisi pimpinan mahasiswa dengan iming-iming posisi nyaman dan materi.

Jika sebuah gerakan mahasiswa terbukti dapat ditunggangi oleh kepentingan politik atau kekuatan tertentu, dampaknya akan sangat fatal terhadap runtuhnya kepercayaan masyarakat (public distrust) kepada gerakan moral mahasiswa secara keseluruhan.

Kondisi ini mengingatkan kembali pada kritik tajam aktivis legendaris Soe Hok Gie, yang pernah menjuluki kaum terdidik yang menukar idealisme dengan jabatan sebagai “pelacur intelektual” dan muncul kutipan legendari dari Gie: 'Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan'.

Tingginya kerentanan kooptasi ini juga memicu pertanyaan besar: mengapa banyak kepala gerakan mahasiswa yang pada akhirnya menyeberang ke dunia politik praktis?

Secara sosiologi politik, partai politik memang kerap mengincar mantan ketua BEM karena mereka telah memiliki nama besar, jaringan yang luas, serta basis massa yang loyal.

Di sisi lain, dari sudut pandang aktivis, banyak yang memutuskan masuk sistem dengan dalih "mengubah dari dalam", meski pada realitasnya arus politik praktis sering kali menggerus idealisme awal mereka.

Faktor pragmatis juga tidak dipungkiri, mengingat panggung politik menawarkan penghidupan yang konkret ketika idealisme dirasa tidak lagi mampu membiayai kebutuhan hidup.

Tren pergeseran dari kursi aktivis kampus ke kursi kekuasaan ini tercermin dari panjangnya daftar mantan ketua BEM dari berbagai universitas ternama yang kini resmi menjadi kader partai politik maupun pejabat publik, di antaranya:

  • Gielbran M. Noor, Ketua BEM KM UGM kini Wakil Ketua Harian DPP PKB
  • Riezal Ilham Pratama, Ketua BEM Kema Unpad kini Wakil Ketua Harian DPP PKB
  • Manik Marganamahendra, Ketua BEM UI kini Wakil Ketum Partai Perindo
  • Melki Sedek Huang, Ketua BEM UI kini Wakil Ketua DPD PDIP Kalimantan Barat
  • Faldo Maldini, Ketua BEM UI kini Komisaris ITDC Danantara dan Kader PSI
  • Deni Wicaksono dulu Ketua BEM Unair kini Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur (PDIP)
  • Trio Agus Purwono dulu Ketua EM UB kini Wakil Ketua II DPRD Kota Malang (PKS).

Sikap tegas yang diambil oleh Tiyo Ardianto saat ini menjadi ujian krusial bagi generasi baru aktivis mahasiswa untuk membuktikan apakah mereka mampu mempertahankan kemurnian gerakan, atau justru mengikuti jejak para pendahulunya masuk ke dalam pusaran politik praktis.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat