Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Jatuh, Mantan Penasihat Ekonomi Presiden AS Sorot MBG Prabowo

Rupiah Jatuh, Mantan Penasihat Ekonomi Presiden AS Sorot MBG Prabowo Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan penasihat ekonomi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-40 Ronald Reagan, Steve Hanke, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto memberikan tekanan besar terhadap anggaran negara.

Menurut Hanke, selain membebani fiskal, program MBG juga menjadi sumber kasus keracunan makanan dan korupsi di Indonesia.

"Program makan siang sekolah GRATIS senilai $15 Miliar Presiden Indonesia Prabowo menyebabkan tekanan anggaran. Jika itu belum cukup buruk, program ini juga menjadi sumber keracunan makanan dan korupsi," tulisnya di akun X pribadinya, Jumat (12/6).

Ia menilai Prabowo telah kehilangan kendali atas keuangan negara. Situasi ini, menurutnya, menciptakan krisis kepercayaan dan memperburuk pelemahan nilai tukar rupiah.

"PRABOWO KEHILANGAN KONTROL FISKAL. ITU MENYEBABKAN MASALAH KEPERCAYAAN DAN RUPIAH YANG MEROSOT," tandasnya.

Meski menuai kritik, pemerintah tetap menjalankan MBG karena diposisikan sebagai investasi jangka panjang untuk menghadirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. 

Program ini dipandang sebagai strategi mengurangi stunting, meningkatkan kualitas gizi, mendorong produktivitas generasi muda, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan.

Baca Juga: Kasus MBG Kian Panjang, Tersangka Baru Muncul Lagi!

Dalam peresmian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026), Presiden Prabowo menegaskan bahwa program MBG dapat memutar uang hingga miliaran di tingkat desa.

"Tiap hari di desa beredar uang 3.000 kali Rp 15.000, ada yang lebih ada yang sedikit, berkurang dan sebagainya. 3.000 kali Rp 15.000, Rp 45 juta tiap hari, dan di situ adalah 5 hari seminggu kali 4, 20 hari kali Rp 45 juta. Berarti Rp 900 juta tiap bulan, kali 12. 12 kali Rp 900 juta, Rp 10,8 miliar," tegasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya