Dari AI hingga Green Economy, Ini Sektor yang Dinilai Menjanjikan ke Depan
Kredit Foto: Boston Consulting Group (BCG)
Para pemimpin bisnis menilai kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), membangun kolaborasi, dan memperkuat ketahanan organisasi menjadi faktor penentu dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan perubahan lanskap bisnis yang berlangsung semakin cepat.
Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi CORIM+ Conversation bertajuk “Indonesia 2026: Where Opportunities Are Taking Shape” yang menghadirkan entrepreneur sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Managing Director & Senior Partner Boston Consulting Group (BCG) Edwin Utama, serta CEO Corim Group Mikhael Lalwani.
Dalam forum tersebut, Sandiaga Uno menyoroti sejumlah sektor yang dinilai berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, antara lain ekonomi digital berbasis kecerdasan buatan, ekonomi hijau (green economy), dan ekonomi kesehatan (wellness economy).
Menurutnya, peluang bisnis tetap terbuka meski perekonomian menghadapi tekanan. Namun, dunia usaha perlu meninggalkan pendekatan konvensional dan memperkuat kolaborasi untuk menangkap peluang tersebut.
“Kesempatan itu ada di setiap tikungan. Saat ekonomi ada penurunan, pasti ada opportunity. Ke depan mungkin di bidang AI dan digital economy, green economy, serta wellness economy. Tapi yang dibutuhkan sekarang adalah innovation dan collaboration. Pola old economy sudah tidak bisa lagi. Saya tidak ingin kita punya 64 juta UMKM yang berjuang sendiri-sendiri. Kita harus membuka ruang yang lebih besar untuk kolaborasi,” ujar Sandiaga Uno.
Sementara itu, Edwin Utama menyoroti percepatan adopsi AI yang dinilainya berlangsung lebih cepat dibandingkan gelombang teknologi sebelumnya.
Ia mengutip hasil survei BCG terhadap 12.000 pekerja di berbagai negara yang menunjukkan 74% responden telah menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari. Sebanyak 40% di antaranya mengaku mampu menghemat hingga satu hari kerja setiap pekan berkat pemanfaatan teknologi tersebut.
Menurut Edwin, tantangan berikutnya bagi perusahaan adalah mengubah peningkatan produktivitas individu menjadi produktivitas organisasi secara menyeluruh.
“Yang membedakan satu perusahaan dengan perusahaan lain ke depan adalah bagaimana menggabungkan human strength dan AI strength. AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi memperkuat manusia. Karena itu saya lebih suka menyebut AI sebagai Amplified Intelligence. Sebagai pemimpin perusahaan, kita harus mulai berbicara mengenai strategi AI hari ini dan menentukan peran mana yang akan diperkuat oleh manusia, serta peran mana yang akan diperkuat oleh AI,” kata Edwin Utama.
Di sisi lain, Mikhael Lalwani menilai ketidakpastian global membuat perusahaan perlu membangun kemampuan adaptasi yang melekat dalam sistem organisasi, bukan hanya bergantung pada individu tertentu.
Menurutnya, perusahaan membutuhkan kerangka kerja yang mampu membuat organisasi tetap adaptif, proaktif, dan responsif terhadap berbagai perubahan pasar maupun risiko eksternal.
“Kita tidak bisa selalu memprediksi apa yang akan terjadi ke depan. Karena itu perusahaan harus memiliki framework yang jelas agar organisasinya mampu menjadi adaptive, proactive, dan responsive terhadap berbagai perubahan dan tantangan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan komunikasi berjalan dengan baik dari level pimpinan hingga seluruh organisasi, karena sering kali tantangan terbesar muncul ketika informasi tidak tersampaikan secara efektif,” ujar Mikhael Lalwani.
Diskusi tersebut menjadi bagian dari CORIM+ Society 2026 yang mempertemukan pemimpin bisnis, investor, entrepreneur, dan pengambil keputusan dari berbagai sektor industri.
Forum tersebut diikuti peserta dari berbagai bidang usaha, mulai dari jasa keuangan, infrastruktur, manufaktur, pertambangan, energi terbarukan, teknologi, transportasi dan logistik, kesehatan, ritel, hingga media dan komunikasi.
Baca Juga: Pentingnya Merekayasa Human Performance di Era AI untuk Pertumbuhan Bisnis
Baca Juga: Tren AI dan Ketahanan Siber Dorong Revolusi Baru di Industri Infrastruktur Data Enterprise
Ketua Kadin Bangka Belitung Ritchie Glen Yapranadi yang hadir dalam acara tersebut menilai forum lintas industri menjadi sarana penting untuk membangun kolaborasi dan bertukar perspektif di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
“Acara seperti ini penting karena kolaborasi antar pelaku usaha sering kali lahir dari koneksi yang terbangun dalam ruang-ruang seperti ini. Saya mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan banyak orang hebat dan memperoleh insight yang sangat relevan, termasuk pandangan bahwa pemimpin bisnis yang kuat justru lahir ketika menghadapi situasi yang penuh tantangan, yang disampaikan oleh Pak Sandiaga Uno,” ujar Ritchie.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri