Kredit Foto: Uswah Hasanah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi 41,72% dari level puncaknya pada Januari 2026 hingga pertengahan Juni 2026, menjadikan penurunan pasar kali ini sebagai koreksi terdalam ketiga dalam sejarah pasar modal Indonesia sejak tahun 2000.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah indikator mulai menunjukkan berakhirnya fase penurunan (descend), meski arah pemulihan masih bergantung pada sejumlah katalis utama, termasuk keputusan MSCI pada 18 Juni 2026.
Berdasarkan analisis Henan Putihrai per 15 Juni 2026, IHSG mencapai puncak di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026 sebelum turun hingga menyentuh titik terendah atau trough di level 5.324,14 pada 8 Juni 2026. Penurunan tersebut berlangsung selama 4,6 bulan dengan drawdown maksimum 41,72%.
Secara historis, kedalaman koreksi tersebut hanya lebih rendah dibandingkan krisis keuangan global atau Global Financial Crisis (GFC) 2008 yang mencatat penurunan 60,7% dan lebih dalam dibandingkan koreksi saat pandemi Covid-19 yang mencapai 37,7%.
Setelah mencapai titik terendah pada awal Juni, IHSG tercatat memantul 10,9% dalam dua hari perdagangan hingga ke level 5.902,38. Durasi fase dasar pasar (trough) tersebut menyamai kecepatan pemulihan awal yang pernah terjadi pada periode GFC 2008 dan Covid-19 2020.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa sejak tahun 2000 pasar saham Indonesia telah mengalami delapan siklus koreksi besar. Tujuh siklus sebelumnya pada akhirnya kembali ke level puncak sebelum membentuk rekor baru, meskipun durasi dan kedalaman pemulihannya berbeda-beda.
Dalam siklus kali ini, terdapat karakteristik yang berbeda dibandingkan periode koreksi sebelumnya. Bank Indonesia justru menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin di tengah tekanan pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pada siklus-siklus sebelumnya, pemangkasan suku bunga umumnya menjadi salah satu faktor yang mendukung pemulihan pasar.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Tembus 6.700, Sucor Nilai Valuasi Saham RI Sudah Murah
Baca Juga: IHSG Terbang Hingga Rupiah Menguat Jadi Bukti Kepercayaan Investor, Rosan: Itu Real!
Baca Juga: IHSG Melejit 4,12%, Damai AS-Iran Bikin Saham Bank dan Komoditas Terbang
Menurut analisis tersebut, berakhirnya fase penurunan kali ini lebih dipengaruhi oleh meredanya tekanan jual investor asing setelah akumulasi net foreign sell mencapai rekor tertinggi, disertai mulai stabilnya nilai tukar rupiah dan munculnya perkembangan positif terkait pembahasan status Indonesia dalam indeks MSCI.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah indikator utama yang dinilai dapat menentukan arah pemulihan. Faktor yang paling dekat adalah keputusan MSCI terkait status Indonesia dalam kategori Emerging Market pada 18 Juni 2026. Selain itu, stabilisasi rupiah dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia juga menjadi variabel yang akan dicermati investor.
Berdasarkan perhitungan historis yang digunakan dalam analisis tersebut, target teknis fase normalisasi berada di level 7.229,42 atau sekitar 18,2% di atas posisi pembukaan IHSG pada 15 Juni 2026 yang tercatat di level 6.118,72. Namun, keberlanjutan proses normalisasi masih bergantung pada perkembangan faktor eksternal dan domestik yang memengaruhi arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: