Kredit Foto: Azka Elfriza
Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap produk asuransi dinilai tidak hanya dipengaruhi oleh faktor literasi keuangan, tetapi juga aspek psikologis.
Certified Financial Planner sekaligus Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap pembelian asuransi sebagai pengeluaran yang merugikan apabila polis tersebut tidak pernah digunakan atau diklaim.
Menurutnya, persepsi tersebut membuat sebagian masyarakat lebih tertarik pada instrumen keuangan yang memberikan manfaat atau hasil secara langsung, seperti investasi dan pasar modal, dibandingkan produk perlindungan keuangan jangka panjang.
"Di Indonesia, banyak orang merasa kalau membeli asuransi tetapi tidak pernah mengklaimnya, maka mereka rugi," ujar Melvin dalam acara OVOFinTalk 2026 di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Padahal, kata Melvin, fungsi utama asuransi adalah memberikan perlindungan terhadap risiko yang tidak diharapkan terjadi, seperti sakit, kecelakaan, atau kejadian tak terduga lainnya.
"Misalnya saya membeli asuransi kesehatan. Harapannya tentu saya sehat, bukan sakit. Jadi secara psikologis, manfaat asuransi memang tidak langsung dirasakan," katanya.
Melvin menilai pemahaman mengenai pentingnya asuransi biasanya muncul ketika seseorang pernah menghadapi beban biaya kesehatan yang besar.
Ia mengaku pernah mengalami kondisi tersebut saat awal berkarier. Ketika menjalani perawatan akibat demam berdarah selama tiga hari di sebuah rumah sakit di Bandung, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp11 juta hingga Rp12 juta, sementara pendapatannya saat itu hanya sekitar Rp4 juta per bulan.
"Saya berpikir, kalau harus menabung seluruh gaji selama tiga bulan hanya untuk membayar biaya rumah sakit, berarti saya membutuhkan perlindungan finansial yang lebih baik," ujarnya.
Pengalaman tersebut mendorongnya untuk mencari produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan dan profil risikonya.
Selain faktor manfaat yang tidak dirasakan secara langsung, Melvin menilai rendahnya minat masyarakat terhadap asuransi juga dipengaruhi oleh pengalaman negatif yang beredar di lingkungan sekitar, meskipun tidak selalu dialami sendiri oleh calon nasabah.
Cerita mengenai klaim yang sulit, ketidakpuasan terhadap layanan, atau pengalaman buruk lainnya kerap membentuk persepsi negatif terhadap industri asuransi.
Baca Juga: IFG Life Serahkan Klaim Asuransi Kredit kepada Ahli Waris Nasabah Bank Sulselbar
Baca Juga: Rupiah Melemah, Industri Asuransi Hadapi Inflasi Klaim
Menurutnya, persepsi tersebut kemudian berkembang menjadi stigma yang sulit dihilangkan dan memengaruhi keputusan masyarakat untuk memiliki perlindungan asuransi.
Dalam kesempatan yang sama, Melvin menilai kesadaran mengenai pentingnya asuransi biasanya lebih mudah tumbuh pada mereka yang pernah merasakan langsung tingginya biaya pengobatan.
"Kalau boleh saya simpulkan, hanya ada dua orang yang mengatakan asuransi itu penting. Pertama, yang menjual asuransi. Kedua, orang yang pernah membayar biaya rumah sakit dengan uangnya sendiri," ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: