Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Netanyahu Dibiarkan Buta, Amerika Tak Berikan Salinan Perjanjian dengan Iran ke Israel

Netanyahu Dibiarkan Buta, Amerika Tak Berikan Salinan Perjanjian dengan Iran ke Israel Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Retaknya komunikasi antara Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menjadi sorotan setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengaku belum menerima salinan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang disepakati Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Pernyataan Netanyahu memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana Israel dilibatkan dalam proses diplomasi yang berpotensi mengubah peta geopolitik kawasan tersebut.

Baca Juga: FIFA Istimewakan Amerika, Trump Diberi Lampu Hijau untuk Ikut Momen Angkat Trofi di Piala Dunia 2026

Sejumlah pejabat senior AS tidak membantah bahwa Netanyahu kemungkinan belum menerima teks final perjanjian. Namun, mereka menolak anggapan bahwa Israel sepenuhnya dibiarkan dalam kegelapan.

"Dia belum meminta salinannya kepada kami, tetapi kami sangat sering memberikan pengarahan kepada dia dan timnya mengenai apa yang sedang terjadi," kata seorang pejabat senior AS, dikutip dariĀ The Guardian, Kamis (18/6).

Pejabat tersebut juga mengungkapkan bahwa Netanyahu secara pribadi pernah menyampaikan kepada tim AS bahwa apabila Iran benar-benar memenuhi seluruh komitmennya, maka kesepakatan tersebut berpotensi menjadi perjanjian bersejarah.

Meski demikian, Washington dan Tel Aviv disebut tetap menyimpan keraguan terhadap implementasi komitmen Iran.

Pengakuan Netanyahu muncul di tengah bocornya isi MoU rahasia AS-Iran yang pertama kali diungkap media Israel, Channel 12.

Laporan itu menyebut dokumen tersebut memuat 12 poin utama yang akan menjadi fondasi negosiasi lanjutan antara Washington dan Teheran.

Salah satu poin penting adalah penghentian pertempuran di seluruh kawasan, termasuk Lebanon, serta komitmen Iran untuk tidak mengembangkan atau memperoleh senjata nuklir.

Namun, memorandum itu tidak mewajibkan Teheran menghancurkan atau mengurangi persediaan uranium yang telah diperkaya. Persoalan mengenai pengayaan uranium dan masa depan program nuklir Iran justru akan dibahas lebih lanjut dalam negosiasi selama 60 hari setelah penandatanganan resmi di Swiss pada 19 Juni 2026.

Dokumen tersebut juga menyebut status quo program nuklir Iran akan dipertahankan selama proses negosiasi berlangsung, yang berarti aktivitas nuklir Iran belum dihentikan sepenuhnya.

Selain itu, AS disebut akan mencabut blokade angkatan laut terhadap Iran, menunda penerapan sanksi baru, dan tidak mengirim tambahan pasukan ke kawasan selama pembicaraan berlangsung.

MoU tersebut juga memberikan peran besar kepada Iran dalam menjamin keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz selama 60 hari. Pada periode yang sama, Iran, Oman, dan negara-negara Teluk akan membahas tata kelola baru terkait keamanan maritim di perairan strategis tersebut.

Dokumen yang bocor juga menyebut Washington akan mencairkan sebagian aset Iran yang dibekukan. Jika kesepakatan final tercapai, AS bahkan disebut akan menarik pasukannya dari kawasan dalam waktu 30 hari serta mencabut seluruh sanksi terhadap Teheran.

Hingga kini, Gedung Putih belum mengonfirmasi keaslian rincian yang dilaporkan Channel 12. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan isi lengkap perjanjian baru akan diumumkan setelah upacara penandatanganan resmi di Swiss.

Baca Juga: 'Saya Merasa Sedih,' Presiden Amerika Berikan Dukungannya ke Sekutu Iran Gegara Terus Dibom Israel

Fakta bahwa Israel belum menerima salinan dokumen tersebut diperkirakan akan memperkuat kekhawatiran di Tel Aviv mengenai arah baru hubungan AS-Iran, terutama karena sejumlah poin dalam memorandum dinilai dapat mengubah keseimbangan keamanan di Timur Tengah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar