Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kelompok Mahasiswa UGM, 'Bagi Kami Budiman adalah Pengkhianat'

Kelompok Mahasiswa UGM, 'Bagi Kami Budiman adalah Pengkhianat' Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan klarifikasi terkait aksi pengusiran tiga pejabat negara yang berujung ricuh di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.

Dalam konferensi pers di Balairung UGM, Rabu (17/6/2026), mereka membantah tudingan bahwa aksi tersebut ditunggangi pihak luar.

Mahasiswa menyatakan pembubaran diskusi bertajuk "Kopdar Bareng Mas Dar" yang digelar pada Senin (15/6/2026) malam dan dihadiri Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Wakil Menteri Pertahanan Sudaryono merupakan gerakan kolektif mahasiswa.

"Kami tekankan sekali lagi, kami yang kemarin datang ke GIK itu adalah perkumpulan kolektif. Informasi tersebar dari satu mahasiswa ke mahasiswa lain yang memang muak, resah, dan ingin mengekspresikan kekecewaan mereka. SEMA UGM hanya bagian dari kolektif tersebut," ujar perwakilan Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM.

Juru Bicara Mahasiswa UGM, Galdwin, menyoroti kehadiran Budiman Sudjatmiko dalam forum tersebut. Menurutnya, sebagian mahasiswa menilai langkah politik Budiman yang bergabung dengan pemerintahan saat ini bertentangan dengan rekam jejaknya sebagai aktivis reformasi 1998.

"Budiman adalah aktivis 98, dan kita tahu apa yang dilakukan Prabowo selama 98, dan bagaimana Budiman bisa bergabung dengan pemerintah Prabowo, itu sudah jelas. Bagi kami, kami menganggap Budiman sebagai pengkhianat," kata Galdwin.

Mahasiswa menjelaskan aksi tersebut berawal dari keresahan yang berkembang di media sosial setelah beredarnya informasi mengenai kedatangan sejumlah pejabat negara ke kampus UGM.

Setelah mengikuti jalannya acara, mereka menilai forum yang digelar tidak memberikan ruang dialog yang seimbang antara narasumber dan peserta.

"Kecurigaan kami bahwa forum ini bukanlah diskusi yang tulen semakin terkonfirmasi. Acara yang dilabeli wadah diskusi ternyata hanya menjadi ajang pamer pencapaian pemerintah dengan porsi bicara yang timpang. Tidak ada ruang korespondensi yang substantif," ujar perwakilan mahasiswa.

Menurut mereka, ketegangan yang terjadi selama acara, termasuk aksi protes yang berkembang menjadi kericuhan, merupakan akumulasi kekecewaan terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang selama ini menjadi perhatian mahasiswa.

Mahasiswa juga menegaskan bahwa aksi yang terjadi di GIK UGM lahir dari inisiatif kolektif dan tidak digerakkan oleh kelompok atau kepentingan tertentu di luar lingkungan kampus.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat