Ditangkap Polisi Amerika, Terungkap Dalang Upaya Pembunuhan Donald Trump di Gedung Putih
Kredit Foto: Istimewa
Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengungkap identitas sosok yang diduga menjadi dalang di balik rencana serangan besar-besaran terhadap acara UFC Freedom 250 di Gedung Putih. Acara itu diketahui dihadiri langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dikutip dari Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat, Jumat (19/6), kepolisian telah menangkap seorang pria bernama Abraham Alvarez. Ia disebut sebagai pemimpin atau "ringleader" yang merancang dan mengarahkan serangan yang berpotensi menimbulkan korban massal tersebut.
Baca Juga: Maju-mundur Kena, Posisi Netanyahu Kini Terpojok Usai Tercapainya Kesepakatan Damai Iran-Amerika
Fakta yang paling menyita perhatian adalah status dari pria tersebut sebagai imigran ilegal asal Meksiko. Alvarez masuk saat masih kecil dan seharusnya meninggalkan negara itu setelah visa turis miliknya berakhir pada 2001. Namun, ia kemudian memperoleh perlindungan dari deportasi melalui program Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA) di 2014.
Alvarez dituding bertanggung jawab merencanakan, mengorganisasi dan mengarahkan skema serangan terhadap acara UFC di Gedung Putih.
Rencana tersebut melibatkan penggunaan drone yang dipasangi bahan peledak untuk memicu kepanikan dan evakuasi massal. Dalam kekacauan yang terjadi, kelompok penyerang disebut telah menyiapkan tim penembak jitu untuk melepaskan tembakan ke arah para pejabat dan pengunjung yang melarikan diri.
Alvarez diduga menggunakan nama samaran "Shepherd" dalam grup percakapan yang digunakan untuk menyusun rencana serangan.
Dalam salah satu percakapan yang diungkap penyidik, ia disebut merespons pertanyaan mengenai jumlah drone peledak yang diperlukan dengan jawaban, "Sebanyak dan semematikan yang bisa kita dapatkan."
Pihak berwenang juga mengklaim sosok tersebut telah memiliki drone yang siap digunakan.
Biro Investigasi Federal (FBI) menangkap Alvarez di Omaha, Nebraska. U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) setelah penangkapannya langsung mengajukan detainer imigrasi terhadap dirinya.
Pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, Lauren Bis menyatakan bahwa pria tersebut seharusnya tidak pernah diizinkan tetap berada di Amerika Serikat.
"Imigran ilegal ini seharusnya tidak pernah diizinkan berada di negara kami. Dia adalah pemimpin serangan teroris yang gagal menargetkan UFC Freedom 250 di Gedung Putih," kata Bis.
Penyidik mengungkap jaringan yang merencanakan serangan terdiri dari sedikitnya 23 orang. Hingga saat ini, lima orang telah ditangkap, sementara keberadaan anggota lainnya masih terus ditelusuri.
Kelompok tersebut diduga termotivasi oleh berbagai teori konspirasi dan ketidakpuasan terhadap pemerintah, isu lingkungan, serta pengaruh dari Israel ke Amerika.
Baca Juga: 'Saya Merasa Sedih,' Presiden Amerika Berikan Dukungannya ke Sekutu Iran Gegara Terus Dibom Israel
Kasus ini menambah panjang daftar ancaman keamanan yang dihadapi Donald Trump. Ia diketahui terluka dalam percobaan pembunuhan saat kampanye di Pennsylvania pada Juli 2024. Hal itu juga disusul berbagai ancaman lain, termasuk dugaan rencana pembunuhan dan sejumlah ancaman terhadap keselamatan dirinya dalam berbagai acara publik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: