Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Genjot Hilirisasi Kelapa, Kementan Bangun Pabrik di Maluku Utara Hingga Riau

Genjot Hilirisasi Kelapa, Kementan Bangun Pabrik di Maluku Utara Hingga Riau Kredit Foto: Dok. Kementan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah terus mendorong hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor. Salah satu fokus utama yang saat ini dikembangkan adalah hilirisasi kelapa melalui pembangunan fasilitas pengolahan di sejumlah daerah penghasil.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan percepatan pengembangan sektor perkebunan diarahkan untuk mendukung program hilirisasi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk badan usaha milik negara (BUMN) di sektor pangan.

"Nah, kemudian selanjutnya hilirisasi kelapa, kita kejar," ujar Amran dalam jumpa pers di Istana Negara, Jumat (19/6/2026).

Menurut Amran, pembangunan fasilitas pengolahan kelapa terus berjalan di sejumlah wilayah sentra produksi. Salah satu proyek yang telah selesai dibangun berada di Maluku Utara.

"Hilirisasi kelapa, pabriknya sudah terbangun di Maluku Utara, satu sudah selesai. Insyaallah tahun ini selesai dua di sana," katanya.

Selain di Maluku Utara, pembangunan fasilitas hilirisasi kelapa juga dilakukan di Morowali dan Indragiri Hilir, Riau.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan perkebunan nasional melalui program pembibitan yang mencakup lahan seluas 870 ribu hektare di berbagai daerah.

Baca Juga: Sikat Kartel Pangan dan Koruptor Internal, Mentan Amran: Satu-Satu Dulu, Yang Lain Menyusul!

Baca Juga: Amran Turun Tangan, Ratusan Perusahaan Sawit Ketar-Ketir! Harga TBS Akhirnya Balik Naik

Amran mengatakan pengembangan komoditas perkebunan akan disesuaikan dengan keunggulan komparatif masing-masing wilayah, termasuk kondisi agroklimat, karakteristik lahan, serta pengalaman masyarakat dalam membudidayakan komoditas tertentu.

Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan efektivitas program sekaligus menekan biaya distribusi bibit antardaerah.

"Program ini dibangun berdasarkan keunggulan komparatif, kondisi agroklimat setempat, dan budaya masyarakat setempat supaya lebih mudah dijalankan," ujar Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Rabu (17/6/2026).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri