Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Siapkan Paviliun Besar di INNOPROM 2026, Fokus 5 Sektor Unggulan

Indonesia Siapkan Paviliun Besar di INNOPROM 2026, Fokus 5 Sektor Unggulan Kredit Foto: Kemenperin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia akan tampil sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026, pameran industri internasional terbesar di kawasan Eurasia yang berlangsung di Ekaterinburg, Rusia, pada 6–9 Juli 2026. Dengan dukungan sekitar 50 delegasi industri nasional, partisipasi ini menjadi upaya strategis untuk mempererat kerja sama industri dengan Rusia dan negara-negara Eurasia, sekaligus membuka peluang investasi, kolaborasi manufaktur, serta perluasan pasar ekspor bagi produk industri Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, hubungan Indonesia dan Rusia di sektor industri telah memiliki fondasi yang kuat. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah mengubah fondasi tersebut menjadi kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan.

“INNOPROM 2026 menjadi kesempatan penting untuk mempertemukan pelaku industri kedua negara secara langsung, meningkatkan investasi, serta membuka peluang kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi kedua pihak,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Senin (22/6).

Sebagai negara mitra resmi, Indonesia akan menghadirkan paviliun nasional seluas lebih dari 1.500 meter persegi, menjadikannya salah satu yang terbesar dalam ajang tersebut. Mengusung tema “Navigating Industrial Futures”, paviliun Indonesia akan menampilkan berbagai sektor unggulan, mulai dari industri agro dan pengolahan pangan, kimia dan farmasi, manufaktur khusus dan barang konsumsi, manufaktur lanjutan dan rekayasa, hingga kawasan industri dan investasi.

Selain menjadi etalase kemampuan industri nasional, paviliun tersebut juga akan menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai agenda bisnis, seperti business matching, forum bisnis bilateral, hingga pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan delegasi setingkat menteri dari kedua negara.

Keikutsertaan Indonesia di INNOPROM 2026 berlangsung di tengah tren penguatan hubungan ekonomi dengan Rusia. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai USD 1,876 miliar, sementara realisasi investasi Rusia di Indonesia tercatat sebesar USD 262,8 juta.

Hubungan kedua negara juga semakin erat setelah serangkaian pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan pada Desember 2025 menghasilkan sejumlah kesepahaman strategis di bidang ekonomi dan industri, yang kemudian diperkuat dalam pertemuan lanjutan di Istana Kremlin, Moskow, pada April 2026.

Penguatan kerja sama tersebut turut ditandai dengan penandatanganan Indonesia–Eurasian Economic Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EAEU CEPA). Kesepakatan ini diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia di kawasan Eurasia sekaligus memperkuat hubungan perdagangan, industri, dan investasi.

Sejumlah kerja sama konkret juga mulai terjalin. Di antaranya penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara PT PAL Indonesia dan Rosato terkait pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir terapung, serta penjajakan kerja sama antara Pupuk Indonesia dan perusahaan Rusia, Uralchem.

Baca Juga: Kemenperin: Banyak Usaha Kreatif Gagal karena Salah Membaca Kebutuhan Pasar

Baca Juga: Kemenperin Bidik Peluang Industri Halal Dunia Senilai US$3,56 Triliun

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, menegaskan bahwa Indonesia datang ke INNOPROM bukan sekadar untuk memperkenalkan potensi industri nasional.

“Dengan fondasi hubungan bilateral yang telah terjalin kuat, Indonesia menargetkan INNOPROM 2026 sebagai titik awal kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan mitra-mitra di kawasan Eurasia,” ujarnya.

Sebagai salah satu forum industri paling berpengaruh di dunia, INNOPROM dinilai menjadi sarana penting untuk menjaring investasi baru, mendorong kolaborasi ko-produksi dan joint manufacturing, serta memperluas akses pasar produk manufaktur Indonesia. Partisipasi sebagai Official Partner Country juga menempatkan Indonesia sejajar dengan Uni Emirat Arab yang menjadi mitra resmi pada 2024 dan Arab Saudi pada 2025, sekaligus menegaskan semakin besarnya peran Indonesia dalam rantai industri global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman