Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sempat Diwarnai Drama Ancaman Bom Donald Trump, AS dan Iran Akhirnya Sepakati Rencana Damai 60 Hari

Sempat Diwarnai Drama Ancaman Bom Donald Trump, AS dan Iran Akhirnya Sepakati Rencana Damai 60 Hari Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Putaran pertama perundingan damai tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss akhirnya resmi berakhir pada Senin (22/6/2026).

Meski sempat memanas dan diwarnai aksi mogok akibat retorika militer yang menegangkan, kedua negara musuh bebuyutan ini akhirnya sepakat menandatangani rencana kerja (roadmap) menuju perdamaian final dalam kurun waktu 60 hari.

Mengutip laporan dari TRT World, tensi di dalam ruang sidang sempat mendidih menyusul pengumuman sepihak dari Teheran yang mengancam akan menutup total Selat Hormuz.

Situasi kian diperparah setelah Presiden AS, Donald Trump, meresponsnya dengan ancaman balik untuk mengebom wilayah Iran secara langsung.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membeberkan bahwa delegasi Iran sempat menolak melanjutkan pertemuan akibat gertakan Washington tersebut.

"Kami menjalani hari yang sangat panjang sejak Minggu pagi. Selama sesi kuadrilateral (empat pihak), pernyataan mengancam dari Amerika dipublikasikan. Hal itu menyebabkan Iran mengumumkan bahwa kami tidak akan melanjutkan pertemuan dalam kondisi penuh tekanan seperti itu," ungkap Baghaei.

Di tengah kebuntuan diplomatik tersebut, Qatar dan Pakistan yang bertindak sebagai mediator netral bekerja tanpa lelah guna meredam ego kedua belah pihak.

Hasilnya, sebuah nota kesepahaman bersama berhasil diterbitkan untuk meredakan krisis global, yang mencakup dua poin darurat:

  • Gencatan Senjata Lebanon: Menyepakati mekanisme dekonflik terpadu untuk segera mengakhiri pertempuran berdarah di Lebanon.
  • Keamanan Selat Hormuz: Membuka jalur komunikasi militer khusus guna memastikan kapal-kapal komersial internasional dapat berlayar dengan aman dari bayang-bayang konflik selama 60 hari masa transisi.

Sikap melunak dari kedua negara ini membawa angin segar bagi stabilitas ekonomi dunia. Pasalnya, jika Selat Hormuz sampai benar-benar ditutup oleh militer Iran, rantai pasok energi global dipastikan akan lumpuh total.

Melalui unggahan di akun media sosial X pribadinya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara terbuka merayakan hasil kesepakatan ini. Ia menilai Teheran berhasil mendapatkan kelonggaran ekonomi yang sangat masif sebagai imbalan dari redanya tensi militer.

"Upaya mediasi Pakistan dan Qatar yang tak kenal lelah telah menghasilkan kemajuan besar. Ekspor minyak dan petrokimia kami dibebaskan, blokade dicabut, beberapa aset yang dibekukan dilepaskan, dan rencana rekonstruksi besar diluncurkan untuk Iran," tulis Araghchi dengan optimis.

Meskipun di atas kertas perjanjian ini terlihat menjanjikan, Araghchi menegaskan bahwa pembuktian dan ujian nyata pertama dari komitmen AS ini akan langsung terlihat di lapangan pada pekan ini, khususnya dalam implementasi sel dekonflik di Lebanon.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat