Bikin Perang Tak Kunjung Usai, Warga Israel Gelar Unjuk Rasa Tuntut Netanyahu Mundur
Kredit Foto: Istimewa
Ratusan warga Israel menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di beberapa kota untuk memprotes pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu. Massa melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan sang perdana menteri serta menuntutnya segera mundur dari jabatannya.
Aksi protes tersebut dipicu oleh meningkatnya perdebatan domestik terkait kebijakan pemerintah dan perkembangan keamanan di kawasan. Gelombang penolakan ini dilaporkan berlangsung di berbagai lokasi strategis pada Sabtu waktu setempat.
"Ratusan warga Israel berpartisipasi dalam unjuk rasa yang digelar di berbagai lokasi, pada Sabtu (20/6) waktu setempat, untuk secara terang-terangan menentang pemerintahan Netanyahu," demikian laporan surat kabar berbahasa Ibrani, Haaretz, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (22/6/2026). Kutipan media asing tersebut mengonfirmasi meluasnya titik demonstrasi di sana.
Sebanyak 1.000 demonstran bergabung dalam aksi unjuk rasa utama yang berpusat di Lapangan Habima, pusat kota Tel Aviv. Pergerakan massa juga terpantau terjadi di wilayah Yerusalem yang diduduki, tepatnya di Lapangan Paris yang berada di dekat kediaman resmi Netanyahu.
Aparat Kepolisian Israel langsung mengambil tindakan dengan menyita pengeras suara milik para demonstran di Yerusalem. Otoritas keamanan setempat berdalih tindakan penyitaan tersebut dilakukan atas alasan pencegahan kebisingan di sekitar pemukiman.
Kritik keras di Tel Aviv salah satunya disuarakan oleh Carmit Palty Katzir yang merupakan anggota keluarga korban serangan Hamas. Ayah Katzir tewas pada Oktober 2023, sementara ibu dan saudara lak-lakinya sempat menjadi sandera di Jalur Gaza.
Katzir menyatakan bahwa kebijakan operasional militer saat ini telah mengorbankan ribuan nyawa dan melukai puluhan ribu warga secara fisik maupun psikologis. Dirinya secara terbuka menuding Netanyahu sengaja memperpanjang durasi perang tanpa arah politik yang jelas demi kepentingan pribadi.
"Katzir, menurut laporan Haaretz, menuduh Netanyahu telah memperpanjang perang tanpa arah politik yang jelas. Dia menuding PM Israel itu memiliki tujuan utama untuk dirinya sendiri, yakni 'keberlangsungan politik'," tulis laporan media tersebut.
Aksi penolakan serupa juga menjalar ke wilayah Israel bagian utara seperti kota Haifa, Karkur, Afula, Rosh Pina, dan Nahariya. Kawasan Beersheba yang terletak di bagian selatan Israel juga tidak luput dari titik konsentrasi massa.
Mantan wakil kepala Dewan Keamanan Nasional Israel, Eran Etzion, turut hadir memberikan orasi politik dalam unjuk rasa di kota Haifa. Dirinya memperingatkan massa agar tidak mudah teperdaya oleh narasi persatuan nasional yang kerap diembuskan menjelang pelaksanaan pemilu.
"Etzion menyebut seruan semacam itu dimanfaatkan untuk membungkam 'publik' dan mengaburkan 'perbedaan politik'," lanjut laporan Haaretz.
Baca Juga: Serang Iran, Peluang Netanyahu Menang Pemilu Israel Anjlok Drastis
Ketegangan domestik ini memuncak di tengah keputusan militer Israel yang terus menggempur wilayah Lebanon untuk menargetkan kelompok Hizbullah. Operasi serangan mematikan tersebut tetap diluncurkan oleh Tel Aviv meskipun kesepakatan gencatan senjata di Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat telah diperpanjang.
Para pejabat tinggi Israel menegaskan bahwa otoritas mereka tidak merasa terikat dengan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Sikap keras tersebut membuat militer tetap melanjutkan operasi pembersihan di semua front pertempuran termasuk Lebanon.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: