Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Presiden Amerika Kembali Ngamuk ke Iran: Izinkan Inspeksi ke Teheran atau Negosiasi Berhenti

Presiden Amerika Kembali Ngamuk ke Iran: Izinkan Inspeksi ke Teheran atau Negosiasi Berhenti Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Iran. Trump menegaskan tidak akan ada kelanjutan negosiasi antara Washington dan Teheran apabila Iran menolak mengizinkan pemeriksaan terhadap fasilitas nuklirnya oleh International Atomic Energy Agency (IAEA).

Trump mengklaim Iran telah "sepenuhnya dan sepakat secara total" untuk membuka akses inspeksi nuklir dalam jangka panjang. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Iran.

Baca Juga: Sosok Kuat Lindungi Roy Suryo dan Dokter Tifa hingga Tak Ditahan di Kasus Ijazah Jokowi, Kata Peradi

"Jika mereka tidak menyetujui hal ini, maka tidak akan ada negosiasi lebih lanjut," ungkap Trump melalui platform Truth Social, dikutip Rabu (24/6).

Trump menyebut kesediaan Iran menerima inspeksi IAEA menjadi salah satu konsesi besar yang mendorong Amerika Serikat melonggarkan tekanannya, termasuk dengan tidak melanjutkan blokade di Selat Hormuz.

"Berdasarkan hal ini dan konsesi besar lainnya dari Iran, saya setuju untuk membiarkan Selat Hormuz tetap terbuka tanpa blokade angkatan laut lebih lanjut," ujar Trump.

Pernyataan Trump muncul setelah putaran pertama perundingan tingkat tinggi antara AS dan Iran di Swiss. Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya juga menyampaikan optimisme bahwa kedua negara telah meletakkan fondasi yang baik menuju kesepakatan permanen.

Menurut Vance, salah satu hasil penting pembicaraan tersebut adalah kesediaan Iran mengizinkan IAEA memeriksa fasilitas nuklir yang sempat dibombardir Amerika Serikat tahun lalu.

Selain itu, Vance mengungkapkan aset keuangan Iran yang dibekukan berpotensi dicairkan dan digunakan untuk membeli produk pangan asal Amerika Serikat.

Namun, di sisi lain, pemerintah Iran membantah telah menyetujui inspeksi baru oleh IAEA. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei menegaskan tidak ada kunjungan yang dijadwalkan bagi IAEA untuk memeriksa lokasi-lokasi nuklir Iran yang dibom Amerika Serikat.

Sejak perang 12 hari antara Israel dan Iran pada 2025, IAEA memang beberapa kali keluar masuk Iran. Akan tetapi, badan tersebut belum diberikan akses ke lokasi pengayaan uranium yang menjadi sasaran serangan AS.

Ketegangan diplomatik ini terjadi di tengah upaya mencari kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut tengah rapuh karena situasi keamanan di Lebanon yang kembali memanas.

Dua orang dilaporkan tewas setelah tentara Israel melepaskan tembakan di wilayah selatan Lebanon, mengakhiri dua hari ketenangan pasca-gencatan senjata yang dimediasi pada Sabtu lalu.

Potensi kembali berkobarnya konflik di Lebanon dinilai dapat mengganggu proses diplomasi yang sedang berlangsung. Sebab, Iran menegaskan bahwa gencatan senjata penuh di Lebanon merupakan salah satu syarat penting dalam setiap kesepakatan komprehensif dengan Amerika Serikat.

Baca Juga: Ganggu Negosiasi Iran-Amerika, Trump Janji Selesaikan Segera Isu Pasukan Israel di Lebanon

Dengan perbedaan klaim antara Washington dan Teheran terkait inspeksi nuklir, masa depan negosiasi kedua negara kini bergantung pada apakah Iran bersedia membuka akses bagi IAEA atau memilih mempertahankan sikap penolakannya di tengah tekanan baru dari pemerintahan Trump.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar