Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Peternak Ayam Dilanda Panic Selling, Kerugian Tembus Rp7.000 per Kg

Peternak Ayam Dilanda Panic Selling, Kerugian Tembus Rp7.000 per Kg Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO) mengungkapkan gelombang panic selling tengah melanda berbagai sentra produksi ayam hidup di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai bukan semata-mata dipicu oleh rendahnya harga ayam, melainkan tekanan likuiditas yang semakin berat di tingkat peternak rakyat.

Ketua Umum PERMINDO Kusnan mengatakan peternak saat ini menghadapi tekanan pembayaran dari industri pakan yang menerapkan sistem pembayaran cash before delivery (CBD). Kondisi tersebut memaksa banyak peternak menjual ayam lebih cepat sebelum mencapai bobot ideal untuk memperoleh dana tunai guna memenuhi kebutuhan operasional.

"Peternak rakyat tidak sedang menghadapi krisis harga ayam semata, tetapi menghadapi krisis margin usaha akibat harga jual yang turun bersamaan dengan kenaikan biaya pakan yang tidak terkendali," ujar Kusnan dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, kebutuhan untuk segera melunasi biaya pakan, operasional kandang, dan tenaga kerja harian membuat peternak terpaksa melakukan panen dini. Akibatnya, pasokan ayam hidup membanjiri pasar dalam waktu bersamaan dan menekan harga jual di tingkat peternak.

Kusnan menilai kondisi tersebut semakin melemahkan posisi tawar peternak rakyat. Di tengah tekanan likuiditas, pedagang perantara (middleman) dinilai memiliki ruang lebih besar untuk menguasai perdagangan karena mampu menyerap ayam dalam jumlah besar.

"Ruang tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pedagang perantara atau middleman yang memiliki kemampuan membeli dalam jumlah besar dan mengendalikan arus perdagangan di lapangan," katanya.

PERMINDO memperkirakan peternak saat ini menanggung kerugian sekitar Rp5.000 hingga Rp7.000 per kilogram akibat harga jual yang berada di bawah biaya produksi.

Menurut Kusnan, anjloknya harga ayam tidak bisa hanya dijelaskan oleh kondisi kelebihan pasokan (over supply). Ia menilai terdapat persoalan yang lebih kompleks, mulai dari tata kelola impor bahan baku pakan, tekanan likuiditas dalam rantai pasok, praktik panic selling, hingga ketimpangan struktur pasar.

"Harga ayam yang rendah berkepanjangan saat ini bukan semata-mata akibat over supply, melainkan akumulasi efek domino dari tata kelola impor bahan baku pakan, tekanan likuiditas industri, panic selling peternak, dan ketimpangan struktur pasar yang pada akhirnya menekan harga jauh di bawah biaya produksi peternak rakyat," ujarnya.

Baca Juga: Harga Ayam dan Telur Jatuh, Amran Usulkan Konsumsi Telur dan Ayam MBG Jadi 3 Kali Seminggu

Baca Juga: Lindungi Peternak, Mentan Surati BKPM Masukkan Sektor Budidaya Ayam ke Daftar Negatif Investasi

Karena itu, PERMINDO mendorong pemerintah dan BUMN pangan mengambil peran lebih aktif sebagai penyeimbang pasar dan instrumen stabilisasi harga. Organisasi peternak menilai langkah tersebut penting untuk mencegah berulangnya siklus kerugian yang terus menekan peternak rakyat.

"Jika akar persoalan likuiditas dalam rantai pasok ini tidak segera diselesaikan, maka harga ayam berpotensi terus berulang jatuh di bawah biaya produksi peternak. Yang dibutuhkan peternak rakyat bukan bantuan sesaat, melainkan perbaikan ekosistem usaha yang sehat, adil, transparan, dan berkelanjutan," tegas Kusnan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: