Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ngeri! Ini Dampak Nyata Fenomena 'Smartphone Zombie' yang Lagi Intai Remaja

Ngeri! Ini Dampak Nyata Fenomena 'Smartphone Zombie' yang Lagi Intai Remaja Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, penggunaan smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Namun, di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, penggunaan smartphone yang berlebihan dapat memunculkan fenomena yang dikenal sebagai smartphone zombie, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu fokus pada ponselnya hingga mengabaikan lingkungan sekitar dan aktivitas yang sedang dilakukan. 

Berangkat dari fenomena tersebut, tiga mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yaitu Martha Bethania P.P.H., Dhiya Ulhaq, dan Fanny Soraya Siregar, menyelenggarakan kegiatan psikoedukasi bertajuk “Tetap Fokus di Era Digital: Mengenal Dampak Smartphone Zombie pada Remaja” di SMA Angkasa 2 Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai perilaku smartphone zombie, faktor yang menyebabkan seseorang sulit melepaskan diri dari smartphone, serta dampaknya terhadap konsentrasi belajar dan kehidupan sehari-hari. 

Melalui penyampaian materi yang interaktif, para siswa diajak untuk merefleksikan kebiasaan mereka dalam menggunakan smartphone dan menyadari pentingnya mengelola penggunaan teknologi secara bijak.

Dalam sesi pemaparan, para pemateri menjelaskan bahwa smartphone pada dasarnya merupakan alat yang sangat bermanfaat untuk mendukung kegiatan belajar, memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga mengembangkan minat dan keterampilan baru. 

Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dapat mengganggu fokus dan mengurangi produktivitas. Fenomena smartphone zombie ditandai dengan beberapa perilaku, seperti kurangnya perhatian terhadap lingkungan sekitar, munculnya risiko kecelakaan akibat terlalu fokus pada layar ponsel, serta dorongan yang terus-menerus untuk memeriksa notifikasi dan media sosial.

Para siswa juga diberikan pemahaman mengenai alasan mengapa smartphone begitu sulit untuk dilepaskan. Berbagai fitur, seperti notifikasi yang terus muncul, konten media sosial yang selalu diperbarui, hingga fenomena Fear of Missing Out (FOMO), membuat seseorang terdorong untuk terus memeriksa ponselnya. Kondisi ini dapat menyebabkan perhatian mudah teralihkan, terutama saat proses belajar berlangsung.

Dalam kegiatan tersebut, dijelaskan pula berbagai dampak smartphone zombie terhadap konsentrasi belajar, di antaranya sulit mempertahankan fokus, membutuhkan waktu lebih lama dalam menyelesaikan tugas, menurunnya kemampuan memahami dan mengingat materi pelajaran, serta meningkatnya distraksi akibat media sosial dan notifikasi. Akibatnya, proses belajar menjadi kurang efektif dan dapat memengaruhi pencapaian akademik siswa.

Sebagai upaya pencegahan, para mahasiswa memperkenalkan beberapa strategi sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, menyimpan smartphone saat belajar, menentukan waktu khusus untuk mengakses media sosial, serta membiasakan diri untuk fokus pada satu aktivitas dalam satu waktu. 

Baca Juga: IPOT Perluas Layanan Digital Lewat AI Analytics dan Trade Flow

Baca Juga: Trump Murka soal Pajak Digital, Ancam Ganti Perjanjian Dagang dengan Tarif 100%

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan teknik Mindful Smartphone STOP, yaitu Stop, Take a Breath, Observe, dan Proceed, sebagai langkah untuk menggunakan smartphone secara lebih sadar dan terkendali.

Kegiatan psikoedukasi ditutup dengan sesi refleksi dan latihan singkat mindfulness yang mengajak para siswa untuk sejenak melepaskan diri dari tuntutan dunia digital dan kembali menyadari pentingnya hadir secara utuh dalam kehidupan nyata. Melalui kegiatan ini, diharapkan para remaja mampu membangun kebiasaan penggunaan smartphone yang lebih sehat, seimbang, dan bertanggung jawab.

“Kendalikan smartphone-mu, jangan sampai smartphone yang mengendalikan waktumu,” menjadi pesan penutup yang disampaikan kepada seluruh peserta sebagai pengingat bahwa teknologi seharusnya menjadi alat yang mendukung kehidupan, bukan justru menguasai perhatian dan waktu penggunanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: