Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Siap-siap! Harga HP Android hingga Laptop Berpotensi Naik Mulai September

Siap-siap! Harga HP Android hingga Laptop Berpotensi Naik Mulai September Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga berbagai perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, tablet, hingga perangkat wearable diperkirakan akan semakin mahal setelah Qualcomm memastikan akan menaikkan harga chip Snapdragon mulai 1 September 2026.

Kenaikan harga tersebut diperkirakan akan berdampak pada produsen yang menggunakan chipset Snapdragon, sehingga berpotensi diteruskan ke harga jual produk di tingkat konsumen.

Mengutip Yahoo Finance, CEO Qualcomm Cristiano Amon mengonfirmasi bahwa perusahaan akan menaikkan harga seluruh lini chip Snapdragon mulai September mendatang.

"Kenaikan biaya di seluruh proses produksi chipset menjadi alasan utama di balik keputusan ini," ujar Amon.

Dalam pernyataan resminya, Qualcomm juga menyebut perusahaan tidak lagi mampu menyerap kenaikan biaya produksi tanpa melakukan penyesuaian harga produk.

Meski tidak mengungkapkan besaran kenaikan harga, sejumlah laporan sebelumnya memperkirakan harga chip Snapdragon akan naik dalam kisaran dua digit. Nikkei Asia bahkan menyebut kenaikan diperkirakan berada di rentang 5% hingga 10%, bergantung pada jenis chipset dan volume pemesanan pelanggan.

Kenaikan harga chip ini diperkirakan akan membuat produsen perangkat elektronik menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, di tengah lonjakan harga chip memori yang sudah lebih dulu terjadi.

Akibatnya, harga berbagai perangkat konsumen diprediksi ikut terkerek, mulai dari smartphone Android premium, laptop Windows berbasis Snapdragon, tablet, perangkat lipat (foldable), jam tangan pintar, hingga perangkat audio nirkabel.

Tidak hanya ponsel, Snapdragon kini juga digunakan pada laptop Windows generasi terbaru, Meta Ray-Ban Smart Glasses, headset Meta Quest, Galaxy Watch 9, serta berbagai perangkat elektronik premium lainnya.

Luasnya penggunaan Snapdragon membuat dampak kenaikan harga ini tidak hanya dirasakan industri smartphone, tetapi juga hampir seluruh segmen elektronik konsumen.

Kenaikan harga Snapdragon terjadi di tengah tekanan rantai pasok semikonduktor global. Qualcomm menyebut perusahaan telah kehabisan ruang untuk menyerap kenaikan biaya dari pemasoknya, sementara upaya mencari sumber komponen alternatif belum membuahkan hasil.

Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyerap pasokan chip memori dan semikonduktor dalam jumlah besar.

Baca Juga: Gandeng Broadcom, Apple Perluas Produksi Chip di Amerika Serikat

Baca Juga: Nezar Patria: Indonesia Harus Bangun Talenta Digital dan Industri Chip Demi AI Berdaulat

Di sisi lain, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip utama bagi Qualcomm, Apple, Nvidia, dan sejumlah perusahaan teknologi besar lainnya, masih menghadapi tingginya permintaan. Meski terus menambah kapasitas produksi, analis Wall Street memperkirakan tekanan pasokan masih akan berlanjut hingga 2027.

Dengan mulai berlakunya kenaikan harga pada September 2026, perangkat elektronik yang diluncurkan sepanjang 2027 diperkirakan menjadi yang paling terdampak, terutama jika produsen baru melakukan pemesanan chipset setelah kebijakan harga baru diberlakukan.

Kondisi tersebut juga memperkuat tren kenaikan harga perangkat elektronik yang sebelumnya sudah dipicu oleh melonjaknya harga chip memori, sehingga konsumen diperkirakan harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli HP, laptop, maupun perangkat elektronik lainnya pada tahun depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri