Qodari Pamer 'Jasa' Prabowo untuk Petani: Pupuk Murah, Gabah Naik hingga NTP Tertinggi 34 Tahun
Kredit Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Pemerintah mengklaim berbagai kebijakan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan dampak nyata bagi kehidupan petani Indonesia. Mulai dari harga pupuk subsidi yang diturunkan, distribusi yang dipermudah, hingga kenaikan harga pembelian gabah disebut menjadi bukti keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari bahkan memamerkan sederet capaian tersebut sebagai fondasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
"Pada 24 Juni 2026 lalu, Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan ke-17 di Kabupaten Gorontalo. Kehadiran Presiden dalam acara tersebut menjadi penegasan komitmen dan keberpihakan pemerintah kepada petani yang selama ini menjadi tulang punggung negara dalam mencapai kedaulatan pangan nasional," katanya, dikutip dari Antara.
Salah satu kebijakan yang disoroti adalah penambahan kuota pupuk subsidi hingga dua kali lipat menjadi 9,5 juta ton. Selain menambah pasokan, pemerintah juga memangkas rantai birokrasi agar pupuk lebih cepat sampai ke tangan petani.
Baca Juga: Divonis 10 Tahun, Ini Hal yang Memberatkan dan Meringankan Nadiem Makarim
Melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi, distribusi pupuk kini dilakukan langsung dari PT Pupuk kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) maupun koperasi sebelum diteruskan kepada petani.
Penebusan pupuk pun kini jauh lebih sederhana. Petani cukup membawa KTP, sementara sistem distribusi telah terintegrasi secara digital agar lebih transparan dan mudah diawasi.
Tak hanya soal distribusi, pemerintah juga menurunkan harga pupuk subsidi sekitar 20 persen sejak Oktober 2025. Harga pupuk urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, sedangkan pupuk NPK berkurang dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram.
Selain itu, pemerintah kembali menghadirkan pupuk subsidi bagi sektor perikanan sebanyak 295.000 ton setelah sempat dihentikan selama empat tahun.
"Di era kepemimpinan Presiden Prabowo, bentuk keberpihakan pemerintah kepada petani telah ditunjukkan lewat berbagai kebijakan. Untuk menjamin pupuk subsidi selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tepat waktu, pemerintah menambah kuantum pupuk subsidi hingga dua kali lipat menjadi 9,5 juta ton dan memangkas rantai birokrasi," ujarnya.
Qodari juga menyoroti langkah pemerintah mempercepat modernisasi pertanian melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Bantuan tersebut meliputi traktor roda dua, traktor roda empat, rice transplanter, combine harvester, hingga drone untuk penanaman benih dan penyemprotan hama.
Pada 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan sekitar 38.969 unit alsintan dengan anggaran sekitar Rp4,19 triliun yang akan disalurkan kepada petani. Pemerintah juga menyediakan skema kredit berbunga ringan melalui bank pemerintah maupun bank daerah agar petani lebih mudah memiliki peralatan modern.
Di sisi lain, pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah yang diserap Bulog dari Rp6.000 menjadi Rp6.500 per kilogram tanpa rafaksi. Kebijakan tersebut menjaga harga gabah tetap menguntungkan bagi petani.
Baca Juga: Jokowi Sungguh Mati-matian Besarkan PSI, Parpol Lain Panik? Golkar Bilang Gini
Qodari menyebut berbagai kebijakan tersebut mulai membuahkan hasil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton.
Angka tersebut juga sejalan dengan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sebesar 35,6 juta ton serta data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) sebesar 34,6 juta ton.
Tak hanya produksi yang meningkat, kesejahteraan petani juga diklaim ikut membaik. Data BPS menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73, yang disebut sebagai capaian tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
"Menurut data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73. Ini adalah angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir, yang berarti ekonomi dan daya beli para petani kini semakin membaik," ungkap Qodari.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: