Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Rebound ke 5.659 Jelang Rilis Data Inflasi dan Perdagangan RI

IHSG Rebound ke 5.659 Jelang Rilis Data Inflasi dan Perdagangan RI Kredit Foto: Akbar Nugroho Gumay
Warta Ekonomi, Jakarta -

IIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Pada awal sesi, IHSG menguat 16,14 poin atau 0,29% ke level 5.659,335.

Berdasarkan data RTI Business pada pukul 09.00 WIB, IHSG sempat bergerak di rentang 5.638,526 hingga 5.660,136. Sementara itu, level pembukaan berada di posisi 5.640,611.

Aktivitas perdagangan pada awal sesi mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp293,12 miliar dengan volume perdagangan mencapai 278,45 juta saham yang ditransaksikan sebanyak 36.945 kali.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 233 saham menguat, 143 saham melemah dan 219 saham bergerak stagnan. Adapun kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp9.954,49 triliun.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal, pergerakan IHSG telah menolak pembentukkan indeks harga tertinggi sejak “wave (b)” maupun “wave (b) alt.” terlihat. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal negatif, namun volume mulai mengalami kenaikan. 

"Setelah IHSG mengalami penurunan tajam, peluang technical rebound sebenarnya masih relatif terbuka," kata Nafan dalam analisanya.

Namun demikian, selama belum terdapat katalis fundamental yang kuat, penguatan diperkirakan masih bersifat terbatas dan rentan dimanfaatkan sebagai momentum profit taking.

Para pelaku investor, kata Nafan, menantikan peririlisan data makroekonomi awal bulan Juli dalam pekan ini, meliputi PMI Manufaktur Indonesia, inflasi, dan neraca perdagangan. Jika hasilnya lebih baik dari ekspektasi, sentimen terhadap IHSG dapat membaik.

Sementara itu, adapun nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi 0,31% dan berada pada level psikologis baru Rp17.907 per Dolar AS menjadi beban berat bagi pasar ekuitas, memicu kekhawatiran atas meningkatnya beban operasional emiten yang bergantung pada bahan baku impor.

Dari global, isu MSCI masih menjadi overhang. Meskipun tidak selalu menjadi pemicu utama pergerakan harian, catatan MSCI mengenai aksesibilitas pasar, likuiditas, dan reformasi pasar modal masih memengaruhi persepsi investor institusi global sehingga arus dana asing belum kembali secara konsisten. 

Baca Juga: 'Pidatomology' Prabowo Bikin IHSG Anjlok? OJK: Mohon Investor Tetap Rasional

Baca Juga: IHSG Berdarah di Akhir Juni! Ambles Hingga 3%, Saham Big Caps Terkapar

"Bahkan secara akumulatif net foreign sell sepanjang semester I-2026 sudah terbilang masif di kisaran Rp86,81 triliun secara year to date," kata dia.

Adapun pengurangan bobot portofolio Indonesia global fund masih membayangi pergerakan big caps. Para pelaku investor juga mencermati Fed Chair Warsh Speech serta perilisan data US nonfarm payroll yang menjadi acuan ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed kedepan. 

Di sisi lain, ketidakpastian di kawasan Timur Tengah terkait dinamika Selat Hormuz masih memicu kehati-hatian.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra