- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
PRDL Yakin IPO Jadi Modal Ekspansi di Tengah Prospek Cerah Industri Diagnostik
Kredit Foto: Antara/M Risyal Hidayat
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi memasuki masa penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada 1–7 Juli 2026 dengan menawarkan 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO pada harga Rp120 per saham. Dengan valuasi price to earnings ratio (PER) 2025 sebesar 8,61 kali, perseroan menilai penawaran tersebut kompetitif di tengah prospek pertumbuhan industri alat kesehatan diagnostik nasional.
Melalui aksi korporasi tersebut, PRDL berpotensi menghimpun dana sekitar Rp62,7 miliar yang akan digunakan untuk mendukung ekspansi usaha dan memperkuat posisi perseroan di industri alat kesehatan diagnostik. Saham PRDL dijadwalkan mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2026.
Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk, Cristina Sandjaja, mengatakan perseroan masih melihat ruang pertumbuhan yang besar, terutama di layanan kesehatan primer yang belum seluruhnya terlayani.
“Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau. Dengan jaringan distribusi yang telah mencakup hampir seluruh Indonesia serta dukungan produk ber-TKDN tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan layanan kesehatan nasional,” ujar Cristina dalam acara Stock Idea Talks Special yang diselenggarakan Sucor Sekuritas, Selasa (30/6/2026).
Prospek industri dinilai masih terbuka lebar seiring pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp244 triliun pada 2026 serta menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau sekitar 140 juta penduduk. Didukung lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia, kebutuhan terhadap produk in vitro diagnostics diperkirakan terus meningkat.
PRDL telah beroperasi lebih dari 14 tahun sebagai produsen alat kesehatan diagnostik dalam negeri. Perseroan memiliki lebih dari 1.083 SKU produk yang dipasarkan di 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota, serta telah digunakan oleh lebih dari 7.611 pelanggan.
Jaringan pelanggan tersebut mencakup sekitar 6.924 puskesmas, 288 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota, serta berbagai institusi layanan kesehatan lainnya. Selain itu, produk utama perseroan telah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70%, sehingga dinilai memiliki daya saing di tengah dorongan penggunaan produk kesehatan lokal.
Baca Juga: IPO Mundur, BACH Tetapkan Harga IPO Rp442 per Saham
Baca Juga: Satu Lagi Calon Emiten Meluncur, Anak Usaha Prodia Bidik Dana Rp62 Miliar dari IPO
Dari sisi fundamental, PRDL mencatatkan pertumbuhan kinerja menjelang pencatatan saham perdana. Sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp74,4 miliar, naik 27% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih meningkat 70,7% menjadi Rp16,9 miliar, sementara EBITDA tumbuh 66,9% menjadi Rp29,2 miliar, mencerminkan peningkatan profitabilitas dan efisiensi operasional.
Di tengah kondisi pasar saham yang masih berfluktuasi, perseroan tetap melanjutkan IPO dengan menawarkan valuasi yang dinilai kompetitif dibandingkan emiten sejenis di sektor kesehatan. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung ekspansi bisnis sekaligus memperkuat kontribusi perseroan terhadap pengembangan industri alat kesehatan nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri