'Saya Tak Habis Pikir', Atalia Praratya Naik Pitam Dengarkan Lagu Viral Bupati Purwakarta
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Kontroversi lagu berbahasa Sunda "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" terus bergulir dan memancing reaksi dari berbagai kalangan. Setelah ramai dikritik warganet karena dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan, kini Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya ikut angkat bicara dengan kritik yang cukup tajam.
Lagu ciptaan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein itu dinilai tidak sekadar mengandung humor, tetapi juga menyinggung persoalan biologis perempuan sehingga dianggap bias gender dan merendahkan kaum perempuan.
Melalui unggahan di akun Instagram, Atalia mengaku telah berusaha melihat lagu tersebut dari berbagai sudut pandang. Namun, ia mengaku tetap tidak menemukan pesan yang menurutnya bisa dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan.
"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulisnya.
Baca Juga: Kadin Purwakarta Aktif Kembali setelah Vakum 5 Tahun, Investasi Jadi Fokus
Menurut Atalia, persoalan ini tidak bisa hanya dipandang sebagai bentuk kebebasan berekspresi atau sekadar karya seni.
Ia menilai pemilihan kata dalam lagu tersebut justru bertolak belakang dengan filosofi budaya Sunda yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai kasih sayang, pendidikan, bimbingan, hingga penghormatan antarsesama.
"Begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah.... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan.... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?" katanya.
Atalia kemudian menegaskan bahwa budaya Sunda tidak pernah mengajarkan masyarakat untuk menjadikan beban biologis perempuan sebagai bahan candaan.
"Sebodoh apa pun saya memahami budaya Sunda, saya tahu bahwa budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.... Dan saya percaya, budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," lanjut dia.
Tak berhenti di situ, Atalia juga menyinggung masih kuatnya budaya patriarki di Indonesia yang hingga kini terus diperjuangkan untuk dihapus.
Karena itu, ia mempertanyakan mengapa narasi yang menurutnya bernuansa patriarkal justru lahir dari karya seorang kepala daerah yang memiliki pengaruh besar di masyarakat.
Baca Juga: Dikecam Publik, Komnas Perempuan Minta Maaf atas Pernyataan Kasus YTR Bukan Penyiksaan
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" imbuh Atalia.
Lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" sendiri menjadi viral setelah liriknya membandingkan pengalaman menjadi laki-laki dan perempuan. Beberapa bagian lagu menyinggung persoalan kehamilan, keguguran, menstruasi, hingga penggunaan atribut perempuan.
Di tengah derasnya kritik yang muncul, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Om Zein menjelaskan bahwa lagu tersebut sebenarnya merupakan refleksi atas perjalanan hidupnya sendiri. Ia mengaku lirik itu lahir dari rasa syukur karena diciptakan sebagai laki-laki, mengingat dirinya merasa pernah memiliki perilaku nakal pada masa lalu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: