Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Koruptor Kok Dikasihani Karena Lulusan Harvard?' Vonis Nadiem Makarim Picu Perang Pendapat Netizen

'Koruptor Kok Dikasihani Karena Lulusan Harvard?' Vonis Nadiem Makarim Picu Perang Pendapat Netizen Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Vonis 10 tahun penjara yang dijatuhkan kepada mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, terus memantik gelombang perdebatan di media sosial, termasuk Threads. Di tengah munculnya dukungan dari sejumlah tokoh publik, tak sedikit warganet justru menilai simpati terhadap Nadiem berlebihan.

Bahkan, sebagian netizen mempertanyakan alasan banyak pihak membela Nadiem hanya karena latar belakang pendidikannya sebagai lulusan Harvard. Beragam komentar pun bermunculan, mulai dari yang mendukung putusan hakim hingga membagikan pengalaman langsung terkait pengadaan Chromebook.

Sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Nadiem Makarim. Selain pidana penjara, ia juga dijatuhi denda Rp1 miliar subsider 190 hari serta diwajibkan membayar uang pengganti Rp809 miliar subsider 5 tahun penjara.

"Memang korup, yang salah ya yang belain, koruptor kok dikasihani hanya karena dia lulusan Harvard," ungkap akun @liaput***.

Nada serupa juga disampaikan netizen lain yang menilai banyak orang ikut membela Nadiem tanpa memahami substansi perkara.

Baca Juga: Media Asing Ikut Bersuara soal Vonis Nadiem Makarim, Singgung Dugaan Balas Dendam

"Kebanyakan orang-orang cuma FOMO buat ikut belain karena takut dianggap tone deaf padahal blas nggak paham kasusnya gimana," sentil akun @rizq***.

Sementara itu, ada pula yang berpendapat kecerdasan Nadiem justru terlihat dari strategi yang dinilainya telah disiapkan sejak awal.

"Kalau saya lihat ya, nadiem ni pintar (lulusan Harvard), cuma pintarnya di sini dia mengatur strategi, biar tidak disalahkan di kemudian hari," ujar akun @ida***.

Ada pula warganet yang menilai fokus publik seharusnya bukan pada berat-ringannya hukuman Nadiem, melainkan bagaimana penegakan hukum terhadap kasus korupsi semestinya dilakukan sejak lama.

"Sepertinya sudut pandang khalayak yg perlu sedikit diganti, bukan bagaimana hukum melihat dan memvonis Nadiem, tetapi justru seharusnya bagaimana hukum semestinya memang memvonis orang-orang seperti Nadiem sejak lama. Jadi ini sudah naik kelas, bukan vonis Nadiem yg “terlalu fantastis” tapi seharusnya dari dulu dan ke depannya semua vonis terhadap kasus seperti ini ya memang difantastiskan," kata akun @nadya****.

Di sisi lain, sejumlah netizen membagikan pengalaman pribadi saat merasakan langsung dampak program pengadaan Chromebook saat bertugas sebagai guru di daerah 3T.

Baca Juga: Media Asing Warning: Vonis 10 Tahun Nadiem Makarim Bisa Bikin Investor Kabur

"Aku juga setuju. Pas banget jaman itu (2019 - 2021), aku jadi salah satu guru di daerah 3T yang jangankan internet, listrik aja tidak ada. Kami di sekolah WAJIB BELI CHROMEBOOK dan sekali lagi, belinya WAJIB di situs Bhinneka, dan satu lagi, harganya 13juta sekian per laptopnya. Dan satu lagi, MINIMAL 2 laptop per sekolah. Kenapa wajib? Soalnya nanti dicek di Profil Sekolah pas akreditasi. Katanya Chromebook versi yang ringan dan juga murah, tp sama laptopku kok lebih mahal," imbuh akun @whatshommat***.

Perdebatan mengenai vonis Nadiem pun masih terus bergulir di media sosial. Sebagian publik menilai putusan tersebut sudah tepat, sementara sebagian lainnya masih mempertanyakan proses hukum yang menjerat mantan Mendikbudristek tersebut.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: