Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Warga Aceh Donasi Rp1 Miliar dan Perbaiki Sendiri Jembatan Enang-Enang, BPJN Minta Maaf Sempat Dinilai Menghambat

Warga Aceh Donasi Rp1 Miliar dan Perbaiki Sendiri Jembatan Enang-Enang, BPJN Minta Maaf Sempat Dinilai Menghambat Kredit Foto: Youtube/Leo Naldi33
Warta Ekonomi, Jakarta -

Hampir satu tahun setelah tertutup longsor akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada November 2025, Jalan dan Jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, akhirnya kembali dibuka untuk umum.

Jalur nasional yang menjadi akses utama menuju Dataran Tinggi Gayo itu kini dapat dilalui setelah proses perbaikan yang sepenuhnya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

Pembukaan kembali jalan dilaksanakan pada Kamis (2/7/2026) dan disambut antusias oleh warga. Perbaikan dinilai menjadi bukti kuat semangat gotong royong masyarakat setelah akses vital tersebut tidak kunjung mendapatkan penanganan hingga berbulan-bulan pascabencana.

Inisiator gerakan perbaikan, Sahrial Abadi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan para donatur yang telah berkontribusi dalam menyelesaikan pekerjaan. Ia menyebut proses pengaspalan jalan dan perbaikan jembatan telah rampung sehingga jalur tersebut resmi kembali difungsikan.

Suasana peresmian berlangsung penuh haru. Sahrial tampak tak mampu menyembunyikan rasa emosinya saat menyaksikan hasil perjuangan masyarakat selama beberapa bulan terakhir. Prosesi pembukaan ditandai dengan pemotongan pita bersama tokoh ulama Aceh, Tengku Muhammad Yusuf Nasir atau Abiya Jeunib, disertai doa bersama dan lantunan selawat yang diikuti ratusan warga.

Pembukaan kembali Jalan Enang-Enang menjadi momen penting bagi masyarakat Dataran Tinggi Gayo karena jalur tersebut merupakan urat nadi perekonomian yang menghubungkan kawasan tengah Aceh dengan wilayah pesisir.

Perbaikan jalan tersebut dibiayai sepenuhnya dari donasi masyarakat. Dana yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp1 miliar tanpa menggunakan anggaran pemerintah, baik dari APBN, APBA, maupun APBK.

Dari total dana yang terkumpul, sekitar Rp526 juta telah digunakan untuk pekerjaan perbaikan jalan dan jembatan. Sementara sisa anggaran sekitar Rp555 juta direncanakan untuk pembangunan dinding penahan jalan, fasilitas ibadah, serta sejumlah sarana pendukung lainnya.

Menurut Sahrial, gerakan swadaya tersebut tidak hanya bertujuan memulihkan akses transportasi, tetapi juga menjadi simbol bangkitnya semangat persatuan dan gotong royong masyarakat Gayo dalam menghadapi persoalan bersama.

Gerakan perbaikan dimulai pada 26 Mei 2026 dengan menyewa satu unit ekskavator menggunakan dana hasil patungan warga. Langkah tersebut diambil karena masyarakat menilai penanganan pemerintah terhadap kerusakan jalan nasional yang menghubungkan Dataran Tinggi Gayo dengan wilayah pesisir Aceh berlangsung terlalu lambat.

Selain mengumpulkan dana untuk menyewa alat berat, masyarakat juga memberikan bantuan berupa bahan bakar minyak guna mendukung operasional selama proses pengerjaan berlangsung.

Selama Jalan Enang-Enang belum dapat dilalui, arus kendaraan dialihkan melalui jalur Simpang Lancang-Wih Porak. Namun, jalur alternatif tersebut dinilai sempit, rusak, dan kerap menimbulkan antrean panjang sehingga memperlambat mobilitas masyarakat maupun distribusi barang.

Proses perbaikan sempat diwarnai polemik setelah Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh menghentikan sementara penggunaan Jalan dan Jembatan Enang-Enang pada 22 Juni 2026. Saat itu BPJN menilai kondisi jalan belum aman untuk dilalui sehingga masyarakat diarahkan menggunakan jalur alternatif Wer Lah sembari menunggu peningkatan kualitas akses.

Kebijakan tersebut memicu kritik dari berbagai kalangan karena dianggap menghambat upaya masyarakat yang sedang memperbaiki jalan secara mandiri. Gelombang protes akhirnya mendorong BPJN Aceh kembali meninjau lokasi beberapa hari kemudian.

Pada kunjungan kedua, BPJN memberikan klarifikasi bahwa pembatasan sebenarnya hanya ditujukan bagi kendaraan bermuatan berlebih, bukan penutupan total jalan. Dalam kesempatan itu, pihak BPJN juga menyampaikan permintaan maaf atas kesalahpahaman yang terjadi di tengah masyarakat.

Baca Juga: Prabowo Ingin 'Singkirkan' 16 Ribu Orang Bea Cukai, Purbaya: Saya Minta Sampai September Ini Betulin

Kembalinya Jalan dan Jembatan Enang-Enang disambut gembira oleh warga yang selama hampir setahun harus menggunakan jalur alternatif dengan kondisi yang kurang memadai. Para pedagang, petani, dan masyarakat umum menilai akses tersebut akan memangkas waktu tempuh sekaligus menurunkan biaya transportasi, terutama untuk distribusi hasil pertanian menuju berbagai daerah di Aceh.

Masyarakat berharap peristiwa ini menjadi evaluasi bagi pemerintah agar penanganan infrastruktur yang rusak akibat bencana dapat dilakukan lebih cepat. Penundaan perbaikan dinilai tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam memberikan pelayanan publik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: