Fenomena Langka, Sebagian Bumi Bakal Gelap Lebih dari 6 Menit pada Agustus 2026
Kredit Foto: Antara/Indrayadi TH
Salah satu fenomena langit paling langka abad ke-21, yakni Gerhana Matahari Total (GMT) yang bakal terjadi pada 2 Agustus 2027. Fenomena ini diperkirakan menjadi perhatian para ilmuwan dan pemburu gerhana dari berbagai negara karena memiliki durasi totalitas yang sangat panjang.
Berdasarkan data National Solar Observatory yang dikutip Media Indonesia, gerhana tersebut diperkirakan mencapai durasi maksimum sekitar 6 menit 22 hingga 23 detik di lokasi pengamatan terbaik. Durasi tersebut menjadikannya sebagai gerhana matahari total terlama yang dapat diamati dari daratan hingga tahun 2114.
Karakteristik gerhana dengan durasi sepanjang itu juga diperkirakan baru akan kembali terulang sekitar 156 tahun mendatang. Karena itu, fenomena ini dinilai sebagai kesempatan langka untuk melakukan penelitian astronomi sekaligus menarik minat masyarakat dan wisatawan dari berbagai negara.
Wilayah Luxor di Mesir diprediksi menjadi lokasi terbaik untuk menyaksikan gerhana karena berada di jalur yang memiliki durasi totalitas paling lama. Selain Mesir, bayangan Bulan juga akan melintasi sejumlah wilayah di Eropa Selatan, Afrika Utara, Timur Tengah, hingga Afrika Timur.
Di kawasan Eropa, jalur gerhana total diperkirakan melewati Spanyol bagian selatan, termasuk Cádiz dan Málaga, serta wilayah Gibraltar. Sementara di Afrika Utara, lintasan gerhana akan meliputi Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, hingga Mesir.
Fenomena tersebut juga akan terlihat di sejumlah wilayah Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Yaman, sebelum melintasi Somalia di Afrika Timur.
Spanyol menjadi salah satu negara yang mendapat keuntungan karena akan mengalami dua gerhana matahari total dalam waktu berdekatan. Sebelum gerhana 2 Agustus 2027, wilayah utara negara itu lebih dahulu akan dilintasi Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 dengan durasi sekitar 2 menit 18 detik.
Gerhana Matahari Total terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari sehingga menutupi seluruh piringan Matahari bagi pengamat yang berada di jalur totalitas. Pada fase tersebut, langit akan berubah menjadi gelap menyerupai malam selama beberapa menit dan suhu udara umumnya mengalami penurunan.
Fenomena ini juga kerap memengaruhi perilaku satwa yang menganggap kondisi tersebut sebagai waktu malam.
Bagi para astronom, gerhana matahari total merupakan kesempatan penting untuk mengamati korona Matahari, yaitu lapisan terluar atmosfer Matahari yang biasanya tertutup oleh cahaya terang piringannya. Pengamatan korona secara langsung membantu ilmuwan mempelajari struktur atmosfer Matahari, termasuk aktivitas angin matahari yang memengaruhi lingkungan antariksa di sekitar Bumi.
Para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung mata yang sesuai selama fase gerhana parsial. Paparan sinar Matahari secara langsung dapat menyebabkan kerusakan retina permanen.
Baca Juga: Bukan Prabowo, Indonesia Akhirnya Kirim Utusan ke Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
Pengamatan dianjurkan menggunakan kacamata gerhana yang telah memenuhi standar internasional ISO 12312-2. Penggunaan alat pelindung yang tidak memenuhi standar keselamatan tidak disarankan karena tetap berisiko merusak penglihatan.
Korona Matahari hanya aman diamati dengan mata telanjang saat fase totalitas, yakni ketika piringan Matahari telah tertutup sepenuhnya oleh Bulan. Di luar fase tersebut, penggunaan pelindung mata tetap wajib dilakukan.
Dengan durasi totalitas yang mencapai lebih dari enam menit serta lintasan yang melewati sejumlah kawasan bersejarah di Eropa, Afrika, dan Timur Tengah, Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 diperkirakan akan menjadi salah satu peristiwa astronomi terbesar dekade ini dan menarik ribuan peneliti maupun wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: