Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Pamerkan Strategi Industrialisasi Baru di INNOPROM 2026, Bidik Kemitraan Global

Indonesia Pamerkan Strategi Industrialisasi Baru di INNOPROM 2026, Bidik Kemitraan Global Kredit Foto: Kemenprin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah memanfaatkan ajang INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia, untuk memperkenalkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) kepada pelaku industri global. Kebijakan tersebut menjadi peta jalan baru yang disiapkan pemerintah untuk memperkuat daya saing manufaktur Indonesia di tengah perubahan ekonomi dunia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia kini tidak lagi hanya menawarkan potensi pasar kepada investor internasional, tetapi juga menghadirkan arah pembangunan industri yang lebih terukur.

"Melalui Strategi Baru Industrialisasi Nasional, Indonesia membangun fondasi industri yang lebih kuat, modern, dan berkelanjutan. Kami membuka ruang yang luas bagi kemitraan internasional yang mampu menghadirkan investasi berkualitas, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas industri nasional," ujar Agus dalam keterangannya dikutip Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, SBIN disusun sebagai respons terhadap berbagai tantangan global, mulai dari percepatan digitalisasi, transisi energi, hingga perubahan rantai pasok internasional. Strategi tersebut juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Dalam implementasinya, SBIN memiliki empat prioritas utama. Pertama, memperkuat produksi manufaktur berbasis nilai tambah dari sumber daya alam. Kedua, mempercepat penguasaan teknologi industri melalui peta jalan Making Indonesia 4.0.

Prioritas berikutnya adalah mendorong industrialisasi hijau agar sektor manufaktur semakin berkelanjutan, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia industri untuk mendukung transformasi sektor manufaktur nasional.

Melalui implementasi empat pilar tersebut, pemerintah berharap Indonesia mampu membangun ekosistem industri yang lebih modern, efisien, dan kompetitif sehingga mampu menarik investasi berkualitas serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Baca Juga: Industri Halal Jadi Andalan, Kemenperin Incar Pasar Global USD 3,56 Triliun

Baca Juga: Paviliun Indonesia Debut di INNOPROM 2026, Perkuat Kerja Sama Industri dengan Rusia dan Eurasia

Indonesia memperkenalkan strategi tersebut dalam kapasitasnya sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026. Pemerintah menilai forum tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan kesiapan Indonesia sebagai pusat manufaktur di Asia Tenggara sekaligus memperluas kerja sama industri dengan negara-negara Eurasia.

Sebagai pendukung strategi tersebut, Indonesia memiliki fondasi manufaktur yang kuat. Nilai tambah manufaktur nasional telah mencapai USD265 miliar atau menempati peringkat ke-13 dunia, sedangkan ekspor manufaktur nonmigas hingga Agustus 2025 mencapai USD147,9 miliar atau hampir 80 persen dari total ekspor nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman