- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Surplus Solar Tembus 3-4 Juta KL Imbas B50, Pemerintah Dorong Konversi Jadi Avtur
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melaporkan Indonesia mengalami surplus produksi solar sebesar 3-4 juta kilo liter (KL). Hal ini terjadi sebagai imbas dari pemberlakuan mandatory pencampuran solar dengan biodiesel sebesar 50% atau B50.
''Akan terjadi surplus. Surplusnya itu diperkirakan, ini lagi dalam hitung-hitungan diperkirakan ya, di antara 3 sampai 4 juta,'' ujar Bahlil dalam peluncuran B50 di Cikampek, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
Dalam peta jalan yang disiapkan, pemerintah telah menjalin pembicaraan dengan PT Pertamina (Persero) untuk mengutilisasi surplus tersebut menjadi produk bahan bakar pesawat atau avtur.
''Nah, ini kita tahap berikutnya adalah kita akan mendorong untuk membangun Avtur. Karena bahan baku Avtur itu hampir sama dengan solar juga, dari solar juga Pak Ega ya. Nah sekarang saya dengan Pertamina lagi membuat roadmap bahkan insyaallah doakan 2026 akhir ini sudah bisa kita lakukan untuk memulainya pembangunan pabrik untuk Avtur kita,'' tandas Bahlil.
Proyeksi Surplus Solar Pertamina Jauh Lebih Tinggi
Namun, hitungan 3-4 juta solar yang dipaparkan Bahlil tersebut merupakan kondisi surplus saat ini. Angka ini bisa jadi berbeda ke depannya.
Pasalnya, PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan adanya potensi kelebihan pasokan atau ekses solar murni (B0) yang jauh lebih besar, yakni hingga 8,3 juta KL per tahun yang sulit terserap pasar domestik maupun internasional.
Berdasarkan data operasional Pertamina, angka ini diprediksi akan melonjak seiring dengan rencana beroperasinya proyek kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Proyek ini diproyeksikan menambah pasokan solar hingga 5,5 juta KL per tahun, sehingga alhasil total potensi surplus solar secara ultimate mencapai 8,3 juta KL per tahun.
VP Business Development & Subsidiary PT Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa pilihan untuk melempar kelebihan pasokan ke pasar global pun menemui jalan terjal.
Baca Juga: Airlangga Klaim B50 Bisa Hemat Devisa RI Hingga Rp177 Triliun
Sigit memaparkan, mayoritas solar hasil kilang domestik saat ini masih berkategori belerang tinggi (high sulfur). Sementara itu, standar pasar internasional saat ini telah bermigrasi ke produk rendah belerang (low sulfur).
''Kita punya dua tantangan besar untuk ekspor. Pertama, pasar global yang bisa menerima solar high sulfur sudah sangat terbatas. Kedua, adanya premium freight atau tambahan biaya pengapalan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan konsumsi di dalam negeri," jelas Sigit di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Strategi Mitigasi Pertamina
Guna meredam dampak tersebut, Pertamina Patra Niaga tengah merumuskan sejumlah langkah Operation Improvement guna menekan ekses solar agar tetap berada di level yang dapat dikelola, yaitu di kisaran sekitar 2,6 juta KL per tahun.
Perusahaan telah memetakan beberapa strategi mitigasi, di antaranya:
- Mengolah solar menjadi Ultra Low Sulfur Diesel guna memenuhi standar emisi yang lebih baik.
- Melakukan upgrade ke Pertadex dengan mengalihkan fraksi solar menjadi bahan bakar diesel performa tinggi.
- Menggenjot konversi ke Avtur guna mengoptimalkan output kilang dalam menambah pasokan bahan bakar penerbangan.
''Kami berupaya mengoptimalkan sisi kilang agar sebagian output bisa dikonversi ke Avtur atau Dex. Langkah mitigasi ini krusial agar keberlanjutan operasional kilang tetap terjaga di tengah mandatori bauran energi yang semakin tinggi," tutup Sigit.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra