Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Riset: Pulau Jawa Masih Mendominasi Aktivitas E-Commerce di Indonesia

Riset: Pulau Jawa Masih Mendominasi Aktivitas E-Commerce di Indonesia Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Warta Ekonomi, Jakarta -

Aktivitas perdagangan digital (e-commerce) di Indonesia disebut masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Berdasarkan riset NEXT Indonesia Center yang memetakan tingkat aktivitas e-commerce di seluruh kabupaten dan kota berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025. 9 dari 10 daftar daerah dengan rasio penjual online tertinggi, berasal dari Pulau Jawa.

Menurut NEXT Indonesia Center, konsentrasi tersebut mencerminkan bahwa perkembangan e-commerce masih mengikuti wilayah yang lebih dulu memiliki infrastruktur digital, jaringan logistik, serta aktivitas ekonomi yang lebih matang.

Pulau Jawa dinilai memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari pasar konsumen yang besar, jaringan transportasi yang lebih terintegrasi, pusat distribusi dan pergudangan, hingga akses yang lebih mudah terhadap layanan pembayaran digital, perusahaan logistik, dan platform e-commerce.

Sebaliknya, banyak daerah di luar Jawa masih menghadapi berbagai tantangan yang menghambat pertumbuhan perdagangan digital. Selain kualitas jaringan internet yang belum merata, wilayah kepulauan juga dibebani biaya logistik yang tinggi, akses distribusi yang terbatas, serta ukuran pasar yang relatif kecil.

Meski demikian, riset tersebut menilai keterbatasan infrastruktur bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan e-commerce. Ketersediaan jaringan internet memang menjadi syarat dasar, tetapi belum cukup untuk mendorong tingginya aktivitas transaksi digital.

Hal itu terlihat dari sejumlah daerah yang telah memiliki cakupan Base Transceiver Station (BTS) cukup tinggi dan tidak mengalami kendala sinyal, namun tingkat pemanfaatan e-commerce masih rendah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor lain seperti daya beli masyarakat, literasi digital, sistem pembayaran, kesiapan pelaku usaha, hingga efisiensi logistik turut memengaruhi perkembangan ekonomi digital di suatu wilayah.

Sebaliknya, daerah-daerah dengan aktivitas e-commerce tinggi umumnya memiliki ekosistem digital yang lebih lengkap.

Baca Juga: DEN Minta Data QRIS hingga E-Commerce Jadi Penilaian, Agar Lebih Banyak UMKM Lolos Kredit Bank

Baca Juga: Mulai 1 Juli 2026, Purbaya Pungut Pajak Pedagang di E-Commerce

Kota Yogyakarta, misalnya, tercatat memiliki jaringan telekomunikasi yang menjangkau seluruh wilayahnya tanpa adanya desa yang mengalami blank spot sinyal telepon seluler maupun internet.

NEXT Indonesia Center mencatat bahwa pada 2025 sekitar 54 juta penduduk Indonesia atau 19,18% populasi telah berbelanja secara daring. Sementara itu, jumlah masyarakat yang memanfaatkan internet untuk berjualan baru mencapai sekitar 9,7 juta orang atau 3,43% dari total penduduk.

Lembaga tersebut menilai pengembangan ekonomi digital ke depan tidak cukup hanya dengan memperluas jaringan internet. Pemerintah juga perlu memperkuat ekosistem pendukung, mulai dari pembangunan logistik, peningkatan literasi digital, perluasan akses pembayaran, hingga pendampingan UMKM agar mampu memanfaatkan platform digital sebagai saluran pemasaran dan penjualan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Fajar Sulaiman